Categories
Data

Covid 19: Turki klaim vaksin Sinovac 91% efektif, pesanan pertama 3 juta dosis segera dikirim

Diperbarui 8 jam yang lalu Reuters Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan vaksin China, Sinovac Biotech, diklaim 91, 25% efektif, menurut hasil awal uji klinis III pada Turki. Menteri Kesehatan Fahrettin Koca mengatakan pemerintah China sepakat buat mengirimkan pemesanan pertama ke Turki pada Minggu (27/12).

24 Desember 2020

Diperbarui 8 jam yang lalu

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan vaksin China, Sinovac Biotech, diklaim 91, 25% efektif, menurut hasil awal uji klinis III di Turki.

Menteri Kesehatan tubuh Fahrettin Koca mengatakan pemerintah China sepakat untuk mengirimkan pemesanan mula-mula ke Turki pada Minggu (27/12).

Pengiriman pertama berjumlah tiga juta jumlah vaksin Sinovac dengan opsi 50 juta dosis lagi begitu vaksinasi dimulai bulan depan, dimulai secara petugas kesehatan dan kalangan yang paling rentan.

Pemerintah Turki juga mengatakan dalam beberapa hari ke aliran akan menandatangani kesepakatan dengan Pfizer/BioNTech untuk 4, 5 juta dosis, dengan opsi membeli 30 juta lagi dari perusahaan Amerika Konsorsium dan mitranya dari Jerman itu, kata Koca.

Hasil mula melalui penelitian 7, 371 sukarelawan di Turki itu jauh bertambah baik ketimbang yang dilaporkan di dalam uji coba vaksin yang sesuai yang dilakukan secara terpisah pada Brasil.

Peneliti di Brasil meminta vaksin itu “mencapai ambang pemisah efikasi” yang ditetapkan WHO, atau lebih dari 50%, berdasarkan bahan uji coba yang dirilis Rabu (23/12).

Namun sekali lagi, para pengkaji Institut Butantan di Brasil menangguhkan pengumuman hasil pasti tingkat efikasi vaksin atas permintaan perusahaan, yang menimbulkan pertanyaan tentang transparansi pengembangan vaksin tersebut.

Sehari sesudahnya, peneliti dalam Turki mengatakan tidak ada hasil samping yang parah selama tes coba yang mereka lakukan, melainkan seorang relawan yang mengalami anggapan alergi.

Efek samping yang ijmal disebabkan oleh vaksin tersebut ialah demam, nyeri ringan dan kurang kelelahan, kata mereka.

Sebanyak 26 dari 29 orang yang dinyatakan positif virus corona diberi vaksin suntikan hampa (placebo) .

Menteri Kesehatan Fahrettin Koca, mengatakan pemerintah akan menggunakan keterangan itu untuk memberi lisensi di vaksin tersebut.

“Kami sekarang tetap bahwa vaksin itu efektif dan aman [untuk digunakan] bagi warga Turki, ” kata Koca, seperti dikuti dari kantor berita Reuters.

Ia juga mengatakan bahwa para peneliti awalnya berencana untuk mengumumkan hasil setelah 40 orang terinfeksi, tetapi temuan itu menunjukkan bahwa para relawan memiliki efek samping yang minimal setelah suntikan vaksin dan karena tersebut dianggap aman.

“Meski berisiko, kami melihat gambaran yang sangat ringan di mana tiga [hasil tes] PCR [dinyatakan] nyata, tanpa demam atau masalah fotosintesis… ”

“Kami dapat dengan mudah mengucapkan bahwa meskipun berisiko, ketiga orang itu mengalaminya dengan [gejala]sangat ringan, ” jelas Koca.

Sebelumnya, Sinovac Biotech menunda pengumuman buatan dari uji coba tahap simpulan vaksin Covid-19 hingga Januari perlu mengkonsolidasikan data yang didapat sejak Brasil dengan hasil uji dari Indonesia dan Turki.

Hasil uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac dalam Indonesia hingga kini belum diumumkan.

Ada lebih dari 1. 600 relawan yang telah disuntik dengan vaksin Sinovac.

Selain itu ada 1, dua juta dosis vaksin Covid-19 produk Sinovac yang telah diimpor & kini disimpan di ruangan penyimpanan Bio Farma, Bandung.

Hasil uji klinis di Brasil

Direktur Institut Butantan di Brasil, Dimas Covas, meminta vaksin itu “mencapai ambang pemisah efikasi” yang ditetapkan WHO, atau lebih dari 50%.

“Kami mencapai periode kemanjuran yang memungkinkan kami buat mencari persetujuan penggunaan darurat” otorisasi dari badan pengawas [kesehatan] Brasil Anvisa, kata direktur Institut Butantan, Dimas Covas, semacam dikutip dari kantor berita AFP.

Institut Butantan menumpukan untuk mengungkap angka pasti dibanding efikasi vaksin yang mereka tes coba pada 13. 000 relawan, dengan alasan terikat kontrak dengan Sinovac.

“Tidak mungkin ada 3 hasil efikasi untuk vaksin yang sama, ” kata Covas.

Dia mengatakan penundaan itu tidak tersedia hubungannya dengan efikasi vaksin, yang diharapkan menjadi salah satu yang pertama disetujui untuk digunakan dalam Brasil.

Sama dengan WHO, badan kepala kesehatan Argentina, Anvisa, menetapkan terkatung-katung batas efikasi setidaknya 50% untuk vaksin selama pandemi.

Pejabat kesehatan mengatakan hasil uji klinis di Brasil itu menjadi “momen untuk dirayakan”.

“Tujuan kami adalah mencapai lebih dari 50%. Jika jumlahnya 51%, itu akan menjadi penting bagi kami, terutama karena kami hidup di saat krisis kesehatan, ” kata pejabat kesehatan Sao Paulo, Jean Gorinchteyn, seperti dikutip dibanding kantor berita Reuters.

Direktur Butantan Dimas Covas mengatakan tidak ada relawan yang divaksinasi dalam uji coba di Negeri brazil yang mengalami gejala Covid-19 dengan parah.

Menurutnya, hal ini berkontribusi pada optimisme tentang kemanjuran vaksin tersebut.

Pakar imunologi Cristina Bonorino, yang juga anggota komite ilmiah Bangsa Imunologi Brasil menganggap minimnya peristiwa yang parah dalam uji klinis “akan sangat berguna untuk menyerang pandemi”.

Namun, penundaan pengumuman hasil uji klinis tahap akhir itu ia sebut “merusak citra vaksin”.

“Mereka seharusnya tidak menunjukkan sesuatu yang pada akhirnya tidak mereka laporkan. Itu masalah yang lebih besar, ”

Brasil adalah negara pertama dengan menyelesaikan uji coba tahap akhir vaksin Sinovac yang disebut CoronaVac, tetapi pengumuman hasilnya, yang mulanya dijadwalkan pada awal Desember, sudah ditunda tiga kali.

Penundaan terbaru ialah pukulan bagi Beijing, yang terus berlomba untuk mengejar ketertinggalan lantaran produsen vaksin rivalnya dan hendak menambah kecaman bahwa pembuat vaksin dari China kurang transparan.

Hal ini juga kemungkinan akan meningkatkan skeptisisme terhadap vaksin China di Brasil.

Presiden Jair Bolsonaro, seseorang yang skeptis akan virus corona yang mengatakan dia tak akan menerima vaksin Covid-19, telah berulang kali mempertanyakan vaksin China berdasarkan “asal-usulnya”.

Sebuah jajak kaidah awal bulan ini menunjukkan bahwa setengah dari warga Brasil menolaknya.

Buatan positif para rival

Sinovac menjadi produsen vaksin China kedua dengan mengumumkan hasil dari uji klinis tahap akhir.

Sebelumnya, Uni Emirat Arab mengumumkan vaksin dari kongsi vaksin China, National Pharmaceutical Group (Sinopharm) yang berbasis di Beijing, memiliki kemanjuran 86%.

Vaksin saingan dengan dikembangkan oleh AstraZeneca, Pfizer & Moderna juga telah membuahkan buatan yang positif.

Vaksin Pfizer, yang dikembangkan dengan mitra dari Jerman, BioNTech, adalah vaksin Covid-19 pertama yang sepenuhnya teruji, dengan vaksinasi yang sudah dimulai di Inggris, Amerika Serikat, serta Kanada.

China telah memberikan vaksin virus corona eksperimental, termasuk suntikan dengan dikembangkan oleh Sinovac, kepada kaum berisiko tinggi di negara tersebut sejak Juli di bawah rencana penggunaan darurat.

Sinovac telah mendapatkan suara pasokan untuk vaksinnya dengan kaum negara termasuk Indonesia, Turki, Brasil, Chili dan Singapura, dan padahal mengadakan pembicaraan dengan Filipina & Malaysia untuk potensi penjualan.