Categories
Data

Komnas HAM klaim temukan bukti ‘memperjelas’ insiden tewasnya anggota FPI, pemulihan polisi menuai kritik, apa yang diketahui sejauh ini?

6 jam yang berserakan ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar Upah Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan berhasil menemukan sebanyak bukti yang dinilai “memperjelas” insiden bentrok yang menewaskan enam anggota Front Pembela Islam (FPI).

6 jam yang lalu

Komisi Nasional Hak Asasi Pribadi (Komnas HAM) menyatakan berhasil menemukan sejumlah bukti yang dinilai “memperjelas” insiden bentrok yang menewaskan enam anggota Front Pembela Islam (FPI).

Komnas HAM menegaskan akan tentu melakukan pemeriksaan dan penelusuran dengan independen tanpa berafiliasi dengan pihak manapun, meski kepolisian telah melayani rekonstruksi terkait tewasnya enam anggota FPI, yang mengawal perjalanan atasan FPI, Rizieq Shihab.

Sebelumnya, tim gabungan dari Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi kontak tembak antara polisi dan Laskar FPI di empat titik di Karawang, Jawa Barat.

Polri menguatkan rekonstruksi ini sebagai “bentuk kejernihan polisi”.

Namun FPI memandang adanya kejanggalan dalam pemulihan yang dilakukan polisi.

FPI mengutarakan kejanggalan ini karena dalam keterangan sebelumnya polisi menyebut anggota FPI tewas dalam baku tembak secara polisi. Namun, hasil rekonstruksi mengungkap bahwa keempat anggota FPI tewas di tangan polisi karena disebut merebut senjata polisi ketika ditangkap.

Pengamat kepolisian menyebut rekonstruksi itu menuai pertanyaan publik sebab di rekonstruksi terungkap bahwa “polisi tidak melakukan langkah preventif” dan “bertindak tidak sesuai SOP” (standard operation procedure ), serta mendesak dibentuknya tim independen pencari fakta.

Bentrokan antara penjaga dan Laskar FPI terjadi Tol Jakarta – Cikampek pada Senin (07/12) dini hari. Dalam kejadian tersebut, enam anggota FPI mati ditembak oleh aparat kepolisian.

Ragam polisi menyebut enam anggota FPI itu ditembak mati karena berusaha menyerang petugas kepolisian yang membuntutinya. Namun versi FPI menyebut itu diserang terlebih dulu.

Bagaimana dengan penyelidikan independen Komnas HAM?

Di sisi lain, Komnas HAM yang pula melakukan penyelidikan di lapangan serta mengklaim telah memiliki bukti insiden penembakan anggota FPI, yang dikenal bisa memperjelas peristiwa tersebut.

Komnas HAM melakukan pemeriksaan terhadap Kapolda Metro Jaya dan Direktur Istimewa PT Jasa Marga pada Senin (07/12) terkait tewasnya enam bagian FPI di Tol Jakarta berantakan Cikampek.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara menjelaskan Dirut Uluran tangan Marga Subakti Syukur memberikan data tambahan terkait rekaman CCTV, namun Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menerangkan kronologi kejadian mulai dari sebelum peristiwa hingga setelah peristiwa meninggalnya keenam anggota FPI.

“Ada bukti baru, data tambahannya juga semakin memperjelas perkara yang terjadi dan juga perkara temuan-temuan lain. Artinya, ini menutup puzzle-puzzle yang ada sehingga tinggal awak analisa, ” ujar Beka Utama.

Ketika ditanya apa bukti-bukti dengan memperjelas insiden itu, Beka Piawai menjelaskan: “Pertanyaan mendasar kan begini, apakah kemudian memang terjadi dasar tembak atau tidak. Atau kemudian saksi-saksi mendengar tembakan, ini membentuk membedakan antara mendengar tembakan dan melihat baku tembak kan beda. ”

Kendati begitu, ia menjelaskan tersedia beberapa yang memerlukan pendalaman lebih lanjut.

“Terkait misalnya bagaimana suasana fisik mobil, baik mobil petugas maupun dari FPI. Yang kedua, soal uji balistik dan pula forensik, ini perlu pendalaman sebab kami harus juga melihat dengan fisik, ” jelas Beka.

Beka menjelaskan Komnas HAM menargetkan pengkajian akan usai dalam waktu kepala bulan mendatang.

Apa petunjuk yang terungkap dalam rekonstruksi?

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan rekonstruksi dilakukan di empat bintik tempat kejadian perkara (TKP) secara total 58 adegan pada Senin (14/12) dini hari.

Kegiatan dikerjakan di malam hari agar menyesuaikan dengan berita acara pemeriksaan (BAP).

“Rekonstruksi ini merupakan hasil berita acara pemeriksaan, dari olah TKP dan bukti-bukti petunjuk yang tersedia, ” ujar Argo usai pemulihan, seraya menambahkan pihaknya telah meninjau 26 saksi terkait insiden itu.

“Rekonstruksi kita lakukan biar polisi transparan dalam menangani kasus itu. Jadi kita bisa melihat segenap adegan per adegan, peran dibanding saksi seperti apa. Biar seluruh kita bisa lihat bersama, ” katanya kemudian.

Empat titik pemulihan terdiri dari TKP di putaran Hotel Novotel Karawang, Jembatan Badami, Rest Area KM 50 dan KM 51+200.

Dalam rekonstruksi, terungkap bahwa dua laskar FPI terluka di Jembatan Badami sedangkan 4 lainnya di mobil polisi dalam Rest Area KM 50 Pungutan Jakarta – Cikampek.

Fragmen rekonstruksi dimulai dengan beberapa bagian kepolisian yang mengendarai mobil Toyota Avanza berwarna silver dihalangi oleh dua mobil yang dikendarai bagian Laskar FPI, yakni mobil Toyota Avanza berwarna silver dan Cheverolet spin warga abu-abu.

Mobil Toyota Avanza yang dikendarai Laskar FPI menabrak kendaraan yang ditumpangi aparat polisi kemudian melarikan diri, patuh petugas yang melakukan rekonstruksi.

Kemudian, mobil Laskar FPI yang asing menghadang mobil petugas. Empat orang keluar dari mobil disebut muncul sambil membawa senjata tajam, lalu melakukan penyerangan terhadap mobil petugas.

Petugas lalu mengeluarkan tembakan rujukan yang disambut oleh tiga tembakan dari mobil Laskar FPI ke arah mobil polisi kemudian membawa diri.

Di Jembatan Badami, mobil yang memuat enam anggota FPI itu kemudian disalip oleh mobil petugas dari sisi sebelah kiri.

Dalam rekonstruksi, salah seorang angkatan membuka kaca mobil dan menyasarkan senjata ke salah seorang aparat di dalam mobil yang berisi empat petugas polisi itu.

Dalam lokasi itulah, baku tembak antara polisi dan laskar FPI disebut terjadi.

Usai kejar-kejaran sekitar 200 – 300 meter, mobil petugas tertinggal jauh dari mobil dengan ditumpangi anggota FPI.

Namun, mobil Chevrolet yang ditumpangi anggota FPI terhenti sebuah mobil ketika akan muncul dari Rest Area KM 50 Tol Jakarta – Cikampek.

Pada saat itulah, aparat mengepung mobil tersebut dan meminta penumpang untuk menyerahkan diri.

Dalam rekonstruksi, terungkap bahwa dua orang anggota FPI terluka. Sebab, keduanya tampak keluar dibanding mobil dengan jalan terpincang.

Patuh Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, kedua orang itu terluka saat lagak baku tembak di TKP sebelumnya.

“Di dalam proses pengejaran, melihat sebab gelagat pelaku yang mencoba menodongkan tembakannya kepada petugas, daripada didahului, anggota melakukan tindakan tegas. Ternyata sampai TKP 3 begitu jadi di blok, begitu dibuka perut dari pelaku sudah dalam laksana terluka, ” terang Andi, minus merinci lebih lanjut luka dengan dialami kedua orang tersebut.

Selanjutnya, kedua anggota FPI yang terluka dibawa menggunakan mobil polisi. Tatkala empat orang lain dibawa menggunakan mobil Daihatsu Xenia milik penjaga lainnya, yang tiba untuk membantu polisi yang melakukan pengejaran.

Pada TKP terakhir, yakni KM 51+200 empat anggota FPI itu ditembak polisi karena diduga mencoba menawan senjata petugas.

Direktur Tindak Kejahatan Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, menjelaskan satu anggota FPI duduk di bangku tengah bersama-sama anggota polisi, sementara tiga dengan lain duduk di bangku kecil. Keempatnya tidak diborgol.

“Dalam penjelajahan yang tidak jauh jaraknya, dibanding KM 50 Rest Area sampai dengan KM 51 sampai KM 51, 2 terjadilah penyerangan atau merebut senjata anggota. Terjadi percobaan untuk merebut senjata anggota lantaran pelaku yang ada di dalam mobil, ” jelas Andi yang menggambarkan aksi yang dilakukan oleh petugas polisi itu sebagai “tindakan pembelaan”.

“Di situlah terjadi upaya sebab penyidik yang ada di dalam mobil untuk lakukan tindakan pembelaan sehingga keempat pelaku di dalam mobil itu semuanya mengalami tindakan jelas dan terukur dari anggota yang ada di dalam mobil, ” katanya kemudian.

Dalam insiden tersebut, enam orang anggota FPI yang meninggal dunia yakni Andi Oktaviawan (33 tahun), Lutfi Hakim (24 tahun), Faiz Ahmad Syukur (22 tahun), M Reza (20 tahun), Muhammad Suci Khadafi Poetra (21 tahun) dan Akhmad Sofian (26 tahun).

Apa respons FPI dan kepolisian hasil rekonstruksi?

Benny Mamoto dari Kompolnas, yang turut serta dalam rekonstruksi itu melahirkan “bahwa memang benar terjadi penyerbuan yang aktif” dari anggota FPI.

“Ini kiranya menjadi pemahaman kita bersama apa yang sesungguhnya terjadi, ” ujarnya.

Hal itu ditegaskan juga oleh Direktur Tindak Kejahatan Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, yang menjelaskan dari TKP 1, mulai terjadi penyerangan terhadap anggota kepolisian.

“Sehingga tentu menanggapi penyerangan tadi, anggota Polri pada hal ini penyidik dalam organ tersebut melakukan pengejaran, ” akunya.

Sekretaris Ijmal FPI, Munarman, mengungkap adanya keanehan dalam rekonstruksi yang dilakukan polisi.

Ia mengatakan kejanggalan itu terlihat dari keterangan polisi sebelumnya bahwa anggota FPI tewas dalam pokok tembak dengan polisi.

Namun hasil rekonstruksi mengungkap bahwa keempat anggota FPI tewas di tangan penjaga karena disebut merebut senjata polisi ketika ditangkap.

“Kalau serangannya dalam atas mobil, kita pertanyakan. Jika empat orang sudah di mobil artinya sudah diakui sekarang itu bahwa empat masih hidup, tersebut dulu poinnya.

“Empat masih hidup bilamana itu tidak terjadi tembak menembak, kemudian dibawa pakai mobil dan di dalam mobil dikatakan, difitnah bahwa mencoba merampas senjata petugas. Jadi ini ceritanya berubah, ” ujar Munarman ketika ditemui kuli usai menjenguk pemimpin FPI, Rizieq Shihab yang ditahan sejak Sabtu (12/12) lalu.

“Pertanyaan yang patut diajukan, berapa orang itu di mobil? Masak empat-empatnya cuma dikawal dua petugas? Nah ini makin eksentrik, ” imbuhnya kemudian.

Masih penuh pertanyaan yang belum terungkap – tanggapan penyelidik kepolisian

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies, Jelas Rukminto menganggap “masih banyak pertanyaan” yang belum terjawab dalam pemulihan yang dilakukan polisi.

“Bagaimana karakter yang sudah tertangkap kemudian melayani penyerangan. Ini yang akan menimbulkan pertanyaan banyak pihak juga, ” kata dia.

Ia juga menyebut bahwa “polisi tidak melakukan langkah preventif”.

“Bila sebelumnya mereka melakukan penyerangan, lalu terjadi penangkapan, mengapa bisa berlaku empat orang itu dikumpulkan di dalam satu mobil kemudian mereka mampu melakukan penyerangan.

“Artinya di danau tidak ada rasio yang sebanding antara tersangka dengan polisi yang mengawal yang tertangkap, ini melahirkan penyerangan kembali kemudian muncul insiden dan memunculkan korban meninggal itu, ” katanya.

Dalam Peraturan Kapolri tahun 2009, kata Bambang, petugas seharusnya melakukan standar preventif untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti itu.

Senada, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menganggap aparat polisi sudah “melanggar standar operasi dan prosedur (SOP)” dalam kasus kematian bagian FPI tersebut.

Ia mempertanyakan mengapa keempat anggota FPI yang diamankan tak diborgol saat dimasukkan ke mobil polisi.

Neta juga menganggap bagian polisi yang seharusnya terlatih, tidak mampu melumpuhkan anggota FPI dengan tak bersenjata yang sudah diamankan.

“Sehingga para polisi main hajar menembak dengan jarak dekat mematok keempat anggota FPI itu tewas, ” kata Neta.

Menyikapi aksi polisi yang diduga tidak melakukan modus preventif dan tidak sesuai SOP, Komisioner Komnas HAM Beka Utama Hapsara menjelaskan bahwa lembaganya “akan menganalisa dengan instrumen HAM & instrument internal kepolisian”.

Khususnya, kata Beka Ulung, Peraturan Kapolri nomor satu tahun 2009 soal penggunaan gaya dalam tindakan kepolisian dan Susunan Kapolri nomor 8 tahun 2009 tentang implementasi nilai dan pokok hak asasi manusia dalam perintah sehari-hari kepolisian.

“Di situ belakang akan terlihat bagaimana tahapan-tahapan dengan digunakan kawan-kawan kepolisian dalam menyikapi situasi yang ada, ” merancang Beka Ulung.

Bagaimana dengan permintaan dibentuknya tim independen pencari bahan?

Neta S Pane mendesak Mabes Polri mau mengakui adanya pelanggaran SOP tersebut.

Ia pun mendesak Komnas HAM dan Komisi III DPR mau mencermati pelanggaran SOP yang kemudian menyebabkan terjadinya pelanggaran PEDOMAN dalam kematian anggota FPI dengan mengawal Rizieq

“Sebab itulah, Komnas PEDOMAN dan Komisi III perlu mendesak dibentuknya Tim Independen Pencari Bahan agar kasus ini terang benderang, ” ujarnya kemudian.

Namun, Bambang Rukminto dari Institute for Security and Strategic Studies menganggap tim swasembada pencari fakta menjadi langkah terakhir.

“Yang terpenting, bagaimana saat ini semangat kepolisian menjaga profesionalisme, membukanya dengan penuh transparan. Kemudian pada situ terjadi kesalahan-kesalahan, tentunya harus ada pertanggungjawaban yang bisa diterima publik, ” kata Bambang.

Di dalam pernyatannya pada Minggu (13/12), Pemimpin Joko Widodo menegaskan jika ada perbedaan pendapat perihal proses penegakkan hukum, ia meminta semua pihak menggunakan mekanisme yang ada, yaitu melalui proses peradilan.

Jika memerlukan keterlibatan lembaga independen, katanya, klub dapat menyampaikan pengaduannya melalui Komnas HAM.

“Tidak boleh ada masyarakat dari masyarakat yang semena-mena mengabaikan hukum yang merugikan masyarakat, apalagi membahayakan bangsa dan negara & aparat hukum tidak boleh mundur sedikit pun, ” kata Jokowi.

“Tapi aparat penegak hukum selalu wajib mengikuti aturan hukum di menjalankan tugasnya, melindungi HAM & menggunakan kewenangannya secara wajar serta terukur, ” ujarnya kemudian.

Sementara Beka Ulung Hapsara dari Komnas HAM memastikan bahwa lembaganya akan berfungsi secara independen tanpa berafiliasi secara apapun.

“Komnas HAM merupakan lembaga independen artinya kami tak punya atasan atau kemudian bertanggung jawab kepada yang lain. saya hanya kepada negara yang ada saja.

“Tentu saja kami akan main secara independen, objektif dan tetap saja transparan supaya akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan. ”