Categories
Data

Pilkada di tengah pandemi Covid-19, pakar tetap khawatirkan soal klaster baru, Mahfud klaim ‘tidak terjadi apa-apa’

Diperbarui 4 jam yang lalu Aditya Irawan/Getty Images Kekhawatiran penyelenggaraan Pilkada 2020 bakal menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 kembali disuarakan seorang pakar penyakit menular, walaupun pemerintah pusat mengklaim pelaksanaan pemungutan suara secara umum sudah sesuai protokol kesehatan.

9 Desember 2020, 10: 01 WIB

Diperbarui 4 jam yang lalu

Pilkada Serentak 2020

Kekhawatiran penyelenggaraan Pilkada 2020 bakal menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 kembali disuarakan seorang pakar penyakit menular, walaupun pemerintah pusat mengklaim pelaksanaan pemungutan suara secara umum sudah sesuai protokol kesehatan.

Seorang pakar epidemiologi mengatakan dampak Pilkada terhadap situasi pandemi belum dapat dinilai pada hari penyelenggaraan Pilkada, karena – jika ada paparan virus corona pada proses Pilkada – butuh waktu dua sampai 14 hari sesuai masa inkubasi infeksi virus corona.

Hal ini menanggapi klaim Menkopolhukam Mahfud MD yang mengatakan pelaksanaan pemungutan suara Pilkada 2020, Rabu (09/12), secara umum sudah berjalan “cukup baik” yaitu sudah sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Dalam jumpa pers daring pada Rabu (09/12) siang, Mahfud mengatakan “tidak ada kaitan antara membesarnya kasus infeksi virus corona dengan penyelenggaraan pilkada”.

“Kita sudah membuktikan kepada orang-orang dulu pesimis, dan ternyata tidak terjadi apa-apa, ini membuktikan biasa-biasa saja, ” kata Menkopolhukam Mahfud.

Secara terpisah, Badan Pengawas Pemilu pada Rabu (09/12) siang mengungkapkan temuannya bahwa ada sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di sejumlah wilayah Indonesia yang tidak menyediakan sarana “cuci tangan” dan “bilik khusus bagi calon pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37, 3 derajat celcius”.

Bawaslu juga mengklaim menemukan ada sejumlah Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang “terpapar covid-19” dan diklaim “masih hadir di sejumlah TPS”.

Pakar epidemiologi Laura Navika Yamani dari Universitas Airlangga, Surabaya memperingatkan bahwa pengawalan keamanan dampak dari penyelenggaran Pilkada terhadap penularan Covid-19 masih harus dijalankan selama setidaknya dua pekan kedepan.

Pilkada Serentak 2020

“Klaim bahwa ini Pilkada sudah dilakukan secara sukses, saya rasa memang kita tidak bisa begitu saja percaya ya 100%, karena yang ada di lapangan itu kan sebetulnya panitia dari Pilkada, atau Bawaslu dalam hal ini.

“Nah, kalau kemudian Bawaslu melaporkan ada temuan-temuan yang di lapangan itu tidak sesuai dengan protokol kesehatan, ya, saya rasa ini yang harus diantisipasi, diwaspadai, dimana saja titik-titiknya, ” kata Laura kepada wartawan BBC News Indonesia, Liza Tambunan, Rabu (09/12).

“Jadi jangan sampai kemudian Pilkada ini selesai, kemudian tugas dari Bawaslu atau kemudian tugas dari Satgas kemudian jadi selesai, ” tambahnya.

“Artinya, saya merasa bahwa satgas ini memang sangat diperlukan pada proses Pilkada untuk memastikan protokol kesehatan itu dijalankan atau tidak, ” tambahnya.

“Ini menjadi bahan evaluasi ketika nanti ditemukan banyak kasus di titik-titik tertentu, di daerah-daerah tertentu ya ini kan bisa dikaitkan dengan apa yang sudah diterapkan ketika Pilkada – memang ada korelasinya, atau tidak ada korelasi.

Pilkada Serentak 2020

“Kita tahunya ketika melakukan pengamatan pada proses Pilkada, kemudian nanti akan menunggu, jadi di monitor. Mungkin ya dua minggu ke depan seperti apa.

Lebih lagi, Laura juga mengingatkan bahwa resiko akselarasi penulasaran juga dapat terjadi saat pengumuman kemenangan, yang kemungkinan bisa memicu terjadi kerumunan saat euforia.

“Kalau yang pengumuman dari hasil Pilkada ini, ini yang sangat berbahaya untuk terjadi kerumunan. Padahal kita tahu resiko kerumunan terhadap penyebaran kasus ini kan sangat tinggi, ” ujar Laura.

Bawaslu temukan kasus-kasus rawan penularan covid-19

Secara terpisah, Badan Pengawas Pemilu pada Rabu (09/12) siang menggelar jumpa pers secara daring, mengungkap berbagai temuannya bahwa ada sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di sejumlah wilayah Indonesia yang tidak menyediakan sarana “cuci tangan” dan “bilik khusus bagi calon pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37, 3 derajat celcius”.

“Tidak ada fasilitas cuci tangan di lokasi TPS, sebagaimana menjadi standar protokol kesehatan yang diterapkan, ” kata anggota Bawaslu, Mochammad Afifuddin. “Itu terjadi di 1, 454 TPS. ”

Afifuddin juga mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di 1, 172 TPS yang diklaim “masih hadir di TPS”. Dalam kasus ini, Bawaslu tidak mengungkap detil lokasinya.

Pilkada Serentak 2020

Sementara, anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar mengatakan, pihaknya juga menemukan TPS di Sleman, Yogyakarta, yang disebut tidak menyediakan bilik khusus bagi pemilih yang suhu tubunya di atas 37, 3 derajat celcius.

Apa yang dikatakan Menkopolhukam Mahfud MD?

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, dalam jumpa pers secara daring sekitar pukul 13. 45 WIB, mengatakan secara umum proses pemberian suara Pilkada 2020 sudah berjalan “cukup baik” yaitu sudah sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Hal ini didasarkan olahan informasi yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pengendalian Covid-19 terkait pelaksanaan Pilkada.

“Sudah berjakan cukup baik di atas 92%… kata Mahfud. “Kita sudah membuktikan kepada orang-orang dulu pesimis, dan ternyata tidak terjadi apa-apa, ini membuktikan biasa-biasa saja. ”

Temuan ini, menurut Mahfud, sekaligus menepis kekhawatiran sejumlah kalangan yang menganggap penyelengaraan Pilkada 2020 akan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Pilkada Serentak 2020

“Itu ternyata tidak ada bedanya trend perkembangan covid-19 antara daerah yang melakukan pilkada dengan non-pilkada, ” kata Mahfud MD dalam jumpa pers secara daring, Rabu (09/12), sekitar pukul 13. 00 WIB.

“Bahkan di daerah yang tidak ada pilkada, itu justru serangan covid juga besar, ” kata Mahfud, tanpa menyebut secara spesifik daerah yang dimaksud.

“Memang di daerah yang ada pilkada, perkembangan yang terinfeksi (covid-19), ada yang besar juga, katanya.

Dengan demikian, demikian Menkopolkam, tidak ada kaitan antara membesarnya kasus infeksi virus corona dengan penyelenggaraan pilkada.

Namun demikian Mahfud mengingatkan tahapan pilkada masih akan berlangsung sampai ada keputusan final Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta pelantikan kepala daerah terpilih.

Untuk itulah, dia meminta semua pihak “meneruskan kewaspadaan” supaya dapat menahan penyebaran covid-19 selama proses pilkada.

Pilkada Serentak 2020

“Karena itu kita ekstra harus hati-hati, karena bagaimanapun pilkada masih berlanjut, ” katanya. “Dan situasinya masih pandemi. ”

“Yang melakukan kerumunan atau pengerahan massa, aparat bisa tertular, juga orang-orang yang tidak ikut-ikutan, sehingga menjadi kluster yang membahayakan. ”

“Jangan sampai di ujung, pilkada yang sudah baik di tahap awal, supaya dijaga terus sampai penetapan hasil pilkada oleh KPU.

Seperti apa pelaksanaan protokol kesehatan di Solo, Makasar dan Medan?

Sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di Solo, Jateng, sudah menerapkan protokol kesehatan. Meski demikian, masih ada sejumlah warga yang enggan berangkat ke TPS karena takut terpapar virus covid-19.

Penerapan protokol kesehatan yang ketat salah satunya terlihat di TPS 22 Manahan, Solo, yang merupakan tempat calon wali kota nomor urut satu, Gibran Rakabuming Raka, memberikan hak suaranya.

Para pemilih yang berdatangan ke TPS tersebut harus menjalani pemeriksaan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, pemeriksaan suhu, hand sanitizer dan memakai sarung tangan plastik. Setelah itu peserta langsung mendaftar ke petugas KPPS.

Bahkan, salah satu petugas KPPS terus melalui pengeras suara untuk mengingatkan agar menjaga jarak dan tidak terjadi kerumuman. Bahkan, sejumlah awak media yang akan meliput kedatangan Gibran untuk mencoblos juga diwajibkan untuk mencuci tangan dan pemeriksaan suhu.

Pilkada Serentak 2020

Penerapan protokol kesehatan serupa juga diberlakukan di TPS 12 Mangkubumen. Meski demikian hingga pukul 12. 00 WIB, dari daftar hadir masih terdapat 100 lebih pemilih yang belum hadir di TPS.

“Yang datang baru 131 pemilih dari jumlah padahal di daftar hadir pemilih ada sebanyak 235 pemilih yang terdaftar, ” kata salah satu petugas TPS 12 Mangkubumen, Hartanto, kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq untuk BBC News Indonesia.

Turunnya tingkat partisipasi, ia menduga ada beberapa faktor, di antaranya ketakutan karena adanya pandemi covid-19. “Tadi di WA grup sendiri sudah dijawil-jawil ada yang nyauri (menjawab) tidak berminat hadir, terus ada yang ketakutan hadir karena Covid. Ada dua keluarga, ” sebutnya.

Sejumlah TPS di Medan, Sumut, sepi, warga khawatir ‘terpapar’

Sementara dari kota Medan, Sumatra Utara, lima belas menit jelang berakhirnya waktu pemungutan suara, suasana di TPS 18 Jalan Bunga Wijaya Kesuma masih terlihat sepi.

Padahal, panitia KPPS telah memanggil warga melalui pengeras suara untuk datang ke TPS, seperti dilaporkan wartawan di Medan, Dedi Hermawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Rabu (09/12).

Dari 430 orang yang terdaftar sebagai pemilih tetap di TPS ini, hanya 190 orang yang menggunakan hak suaranya pada Pilkada Medan yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19.

Seman, salah seorang petugas KPPS menyatakan minat masyarakat untuk datang ke TPS 18 menggunakan hak pilihnya pada Pilkada tahun ini sangat minim.

Seman menyebut sejak dibuka pukul 07. 00 WIB hingga 15 menit jelang berakhirnya waktu pemilihan, jumlah warga yang datang ke TPS baru sekitar 190 orang.

Pilkada Serentak 2020

Sementara, sebut Seman, jumlah Daftar Pemilih Tetatp (DPT) yang terdaftar di TPS 18 ada 430 orang.

“Sepi dari tadi pagi, minat masyarakat untuk datang ke TPS sangat minim di Pilkada kali ini, ” katanya.

Seman menyatakan salah satu penyebab minimnya masyarakat datang ke TPS karena khawatir tertular virus Covid-19.

Padahal, ujarnya, panitia telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat diawali dengan mencuci tangan dan pengecekan suhu tubuh serta menyiapkan sarung tangan plastik saat masuk ke area pencoblosan.

Lalu, setiap orang juga disemprot dengan cairan disinfektan sebelum masuk ke bilik suara saat mencoblos.

“Penerapan protokol kesehatan sudah cukup ketat, tapi masyarakat masih enggan untuk datang ke TPS. Mereka memilih tetap di rumah daripada datang ke TPS, ” ungkapnya.

Pilkada Serentak 2020

Kondisi yang sama terlihat di TPS 22 kompleks Taman Setia Budi Indah Medan, yang menjadi lokasi pemungutan suara calon Walikota Medan Bobby Afif Nasution beserta istri. Di TPS yang berada dihalanan rumah mewah ini sepi sejak pagi hingga siang.

Helty Susilo, salah seorang petugas KPPS menyebut hingga pukul 10. 00 Wib, jumlah warga yang datang ke TPS 22 untuk menggunakan hak pilihnya baru sekitar 50 orang dari total 314 pemilih.

Helty mengakui jumlah pemilih pada Pilkada tahun ini sangat rendah dibanding Pilkada 2015 lalu.

Jusuf Melan, salah seorang warga Medan menyatakan awalnya ragu-ragu untuk datang ke TPS karena khawatir terpapar virus Covid-19. Namun setelah dipikir-pikir Pilkada ini hanya berlangsung sekali dalam lima tahun, Jusuf Melan memutuskan untuk datang ke TPS dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Sayang juga rasanya dilewatkan, soalnya ini moment lima tahun sekali. Tadinya waswas karena Covid-19, tapi saya tetap datang ke TPS, ” kata Jusuf usai mencoblos di TPS 22 Jalan Bunga Wijaya Kesuma Padang Bulan Medan.

‘Silakan datang ke TPS, jangan lupa pakai masker’

Di Solo, putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, yang ikut berkompetisi memperebutkan kursi wali kota Solo, sudah memberikan suaranya di TPS 22, RT 04 RW 13, Kelurahan Manahan, Banjarsari, Solo, Rabu (09/12).

Usai memberikan suaranya, Gibran di hadapan wartawan, mengatakan dirinya mengharapkan agar warga Solo memberikan suaranya dalam Pilkada 2020.

“Silakan datang ke TPS. TPS dipastikan aman, nyaman, steril, jangan lupa bawa masker, ” kata Gibran.

Pilkada Serentak 2020

Pesaingnya, Bagyo Wahyono, juga telah memberikan suara di TPS 8, Penumping, Solo, Jawa Tengah.

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota jalur perseorangan atau non partai Bagyo Wahono dan FX Supardjo bersaing dalam merebut suara dengan pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosapada Pilkada Kota Solo 2020.

Calon Wali Kota Solo nomor urut dua Bagyo Wahyono

‘TPS tidak mencekam seperti yang dibayangkan’

Menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang bertarung dalam pemilihan wali kota Medan telah memberikan hak suara di TPS 22, kompleks Taman Setia Budi Indah Medan, Sumatra Utara.

Ia tiba di TPS bersama istrinya, Kahiyang Ayu, mengenakan baju berwarna putih dan celana jeans , setelah sebelumnya berziarah ke makam ayahnya, Erwin Nasution.

Sama seperti Gibran, Bobby mengajak warga Medan untuk menggunakan hak pilih dan menegaskan bahwa “datang ke TPS tidak mencekam seperti yang dibayangkan”.

Nggak berbahaya, ada protokol kesehatan di dalamnya, bahkan kita selalu menyampaikan kalau bisa bawa alat tulis sendiri, ” ujar Bobby kepada wartawan.

Pilkada Serentak 2020

“Yang penting hari ini masyarakat ramai-ramai ke TPS, memberikan suaranya, memberikan pilihannya. Mudah-mudahan apa yang kami tawarkan, program yang kami tawarkan bisa diterima dan bisa memilih kami, ” katanya kemudian.

Menurutnya, partisipasi warga Medan dalam Pilkada kali ini penting, sebab dalam pilkada sebelumnya partisipasi pemilih di Medan sangat rendah.

“Pastinya masyarakat hari ini sudah lebih ingin kotanya lebih bagus lagi, lebih baik lagi, itu salah satu motivasi untuk datang ke TPS. Karena memang salah satu untuk membenahi kota [adalah] dengan bisa memilih pemimpinnya itu jadi motivasi masyarakat Medan, ” jelas Bobby.

Pilkada Serentak 2020

Bayang-bayang Covid-19

Sementara, berdasarkan pantauan wartawan BBC News Indonesia Muhammad Irham di Makassar, Sulawesi Selatan, warga baru mulai mendatangi TPS sekitar pukul 09. 00 WITA setelah hujan yang mengguyur kota itu reda.  

Di TPS 003, Kel. Sawerigeding misalnya, warga yang datang juga dibatasi jumlahnya, mereka diminta datang sesuai jadwal detil yang telah ditulis dalam surat undangan.  

Salah satu pemilih, Rifka Amanda (19) mengatakan kepada BBC Indonesia, “[Protokol] sudah oke, tertib.   Dari panitia juga menyediakan penyanitasi tangan, warga yang datang juga tidak bar-bar. ”

Pilkada Serentak 2020

Protokol Covid-19 diterapkan di tempat-tempat pemungutan suara, warga yang akan memberikan hak suaranya wajib untuk cek suhu tubuh sebelum memasuki TPS.

Bila suhu tubuh lebih dari 37C, warga akan diminta untuk mencoblos di bilik khusus yang terpisah.  

Pilkada Serentak 2020

Dari pantauan sejauh ini, belum ada warga yang suhu tubuhnya lebih dari batas 37C.

Selain pengukuran suhu tubuh, pemilih juga diminta menggunakan masker dan menjaga jarak 1 meter saat mengantre.

Untuk menghindari kontak antar pemilih, pencelupan jari ke tinta usai mencoblos diganti dengan pemberian tinta ke jari pemilih dengan cara diteteskan.  

Pilkada Serentak 2020

Makassar saat ini berada dalam kategori zona oranye Covid-19.   Dari sekitar 16. 000 petugas pemilihan yang disiapkan untuk bertugas dalam Pilkada, sekitar empat ratus di antaranya reaktif Covid-19 setelah serangkaian tes cepat.

Pemilihan wali kota dan wakil wali kota Makassar 2020 diikuti empat pasangan calon yakni Moh Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi (diusung Partai Nasdem dan Gerindra), Munafri Arifuddin-Abd Rahman Bando (diusung Partai Demokrat, PPP, dan Perindo).

Pilkada Serentak 2020

Pasangan lain ialah, Syamsu Rizal MI-Fadli Ananda (diusung Partai PDI-P, PKB, dan Hanura), serta Irman Yasin Limpo-Andi Muh Zunnun Armin Nurdin Halid (diusung Partai Golkar, PKS, dan PAN).  

Di berbagai daerah lain, pemilik suara menggunakan masker dan sarung tangan, serta menerapkan protokol kesehatan ketika melakukan pencoblosan surat suara.

Pilkada Serentak 2020

Sementara, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan terhadap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, petugas KPPS akan mendatangi yang bersangkutan dengan terlebih dulu berkoordinasi pihak rumah sakit

Adapun mekanisme teknisnya, menurut Arief, sangat tergantung kondisi di masing-masing rumah sakit.

Apabila rumah sakit memiliki ruang terbuka besar, maka para pasien covid-19 bisa “dilayani” di tempat itu, kata Arief.

“Atau kalau di rumah sakit, pasien tidak bisa keluar kamar, maka akan koordinasi dengan rumah sakit untuk dilayani di kamar, ” ujar Arief kepada wartawan, Rabu (09/12).

“Tapi apakah kami langsung masuk kamar atau ada petugas yang menghubungkan, secara teknis saya minta koordinasi dengan rumah sakit, ” katanya.

Jika pasien dirawat di rumah, maka petugas akan mendatangi ke rumah masing-masing.

Pilkada 2020 semula dijadwalkan digelar di 309 kabupaten/kota untuk pemilihan sembilan gubernur dan wakil gubernur, 37 pemilihan wali kota dan wakil walikota, serta 224 pemilihan bupati dan wakil bupati.

KPU menganggap Yusak belum memenuhi syarat masa tunggu lima tahun setelah ditahan karena kasus korupsi.

Tahapan Pilkada serentak tahun 2020 sebelumnya tertunda selama hampir tiga bulan akibat pandemi COVID-19 dan baru dilaksanakan pada 9 Desember 2020.

Berita ini akan terus diperbarui