Categories
Data

Penolakan pembangunan rumah warga Yahudi dalam Yerusalem Timur, delegasi Eropa dihadang dan diteriaki kalangan nasionalis Israel

8 menit yang lalu Reuters Delegasi diplomat Eropa yang berkunjung ke Yerusalem Timur untuk memprotes rencana pendirian permukiman bagi warga Yahudi dihadang dan diteriaki oleh kalangan nasionalis Israel.

Utusan diplomat Eropa yang berkunjung ke Yerusalem Timur untuk memprotes jadwal pembangunan permukiman bagi warga Yahudi dihadang dan diteriaki oleh kalangan nasionalis Israel.

Israel berencana membangun 1. 250 rumah untuk para pemukim Yahudi di Givat Hamatos, yang berada di pinggiran kawasan pendudukan Yerusalem Timur.

Utusan PBB mengatakan pembangunan perumahan ini mengancam prospek pendirian negara Palestina di masa depan. Palestina ingin mendaulat Yerusalem Timur sebagai ibu tanah air negara.

Sejumlah diplomat Eropa mendatangi Givat Hamatos pada hari Senin (16/11) untuk memprotes rencana Israel.

Namun mereka dihadang dan diteriaki oleh kaum nasionalis Israel yang mengatakan “kamu sungguh memalukan” kepada para diplomat, seperti terlihat dalam video yang diunggah seorang wartawan di Twitter.

Orang-orang nasionalis juga menuduh diplomat Eropa “mendukung antisemitisme dan terorisme”.

Israel sudah membuka tender kepada kontraktor buat mengerjakan proyek pembangunan di Givat Hamatos.

Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat mengambil sikap mengizinkan pembangunan permukiman Yahudi, tapi Joe Biden, yang memenangkan pemilihan kepala Amerika, diharapkan mengubah kebijakan itu.

Kelompok antipermukiman mengucapkan mereka meyakini pihak berwenang Israel, “sengaja memanfaatkan waktu dan ingin segera memulai proyek pembangunan tersebut”, sebelum Biden mulai bekerja.

Proyek sempat dihentikan

Lebih dari 600. 000 warga Yahudi tinggal di 140 kompleks permukiman, sejak Israel merebut & menduduki di Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada 1967.

Sebagian mulia negara berpandangan permukiman itu menentang hukum internasional, namun Israel menolak pandangan ini.

Tadinya proyek ini dihentikan di tengah penentangan cepat masyarakat internasional.

Pada Minggu kemarin, Lembaga Pertanahan Israel (ILA) meminta kontraktor bangunan untuk mengajukan penawaran memutar lambat pada 18 Januari.

“Jika dibangun, ini akan makin mengisbatkan keberadaan permukiman di Yerusalem secara Bethlehem di wilayah pendudukan Sembiran Barat.

“Ini akan secara signifikan merusak prospek pendirian negara Palestina pada masa depan berdasarkan garis tapal batas 1967 dengan Yerusalem sebagai ibu kota dari masing-masing negara, ” tambahnya.

‘Faktor pertolongan Trump’

Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Otorita Palestina, mengatakan tender order pembangunan ini merupakan bagian sejak usaha Israel “untuk membunuh solusi dua-negara yang didukung masyarakat internasional”.

Ikatan ini menuding pemerintahan Netanyahu “mengambil kesempatan minggu-minggu terakhir pemerintahan Trump untuk menetapkan fakta di lapangan bahwa akan sangat sulit dibatalkan guna mencapai perdamaian”.

Presiden Trump tahun lalu mengubah kebijakan AS terpaut keberadaan permukiman Yahudi di Sembiran Barat dengan mengatakan bahwa “permukiman di Tepi Barat bukan pengingkaran atas hukum internasional”.

Joe Biden diharapkan untuk mengubah kebijakan itu, akan tetapi dia mengatakan tidak akan mencoret keputusan Trump pada 2017 dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu tanah air Israel.

Presiden AS yang segera geser ini meluncurkan rencana perdamaian Januari lalu, meskipun Palestina mengatakan agenda itu berat sebelah ke Israel dan ini memberikan lampu hijau untuk mencaplok wilayah Tepi Barat.

Undangan penawaran untuk Givat Hamatos telah dipublikasi beberapa hari sebelum anjangsana Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Israel.

Media dalam Israel melaporkan, Pompeo berharap menjadi menlu AS pertama yang mengunjungi permukiman di Tepi Barat – tindakan yang disebut PM Palestina akan menimbulkan “preseden berbahaya”.

Departemen luar negeri AS belum mengkonfirmasi rencana perjalanan Pompeo ke Israel.