Categories
Data

Ratapan komunitas penganut Mormon setelah 3 ibu dan anak-anaknya dibunuh dalam gurun

8 tanda yang lalu Getty Images Setahun lalu, tiga perempuan penganut Mormon dan enam anak mereka dibunuh di Gurun Sonora, Meksiko. Apa yang terjadi pada keluarga yang ditinggalkan dan bagaimana pencarian itu untuk keadilan.

  • Mohamed Madi & Ana Gabriela Rojas
  • BBC News

Setahun lalu, tiga rani penganut Mormon dan enam budak mereka dibunuh di Gurun Sonora, Meksiko. Apa yang terjadi di dalam keluarga yang ditinggalkan dan dengan jalan apa pencarian mereka untuk keadilan.

“Kami datang ke sini untuk meninggalkan semuanya. Dan tiada yang pernah menganggu kami. ”

Kenny Miller berbicara dengan logat Amerika Serikat bagian selatan. Mengenakan topi khas pengendara truk dan sepatu bot tebal, dia menjejakkan kaki dalam jalur berlumpur yang licin. Tanah yang ditumbuhi semak tanaman mesquite ada pada satu sisinya, sedangkan pegunungan Sierra Madre yang menyengat awan kelabu pada sisinya yang lain.

Kenny adalah warga Meksiko penganut Mormon. Dia dilahirkan dibesarkan di La Mora, lima jam berkendara lantaran perbatasan AS. La Mora bertambah menyerupai kompleks peternakan ketimbang desa, namun memiliki sekolah sendiri, bengkel kerja, penampungan hewan ternak, & rumah bagi 30 keluarga.

Semakin dia mendekati terpal hitam dengan menahan bebatuan, raut wajahnya berganti. Beberapa bongkahan besi bengkok tumbuh dari sisi terpal tersebut.

Lokasi itu adalah saksi bisu dari tragedi yang menghantam komunitas penganut Mormon tersebut.

“Peristiwa itu menjungkirkan dunia kami, dan menurut saya kami tidak akan pernah sama seolah-olah dulu, ” kata Kenny.

Pada 4 November 2019, menantu perempuan Kenny, Rhonita Miller—yang akrab disapa Nita oleh keluarganya—berkendara beriringan dengan dua perempuan lainnya, Christina Langford & Dawna Ray Langford, dalam perjalanan selama enam jam. Mereka menuju Colonia LeBaron, permukiman penganut Mormon lainnya yang dihuni keluarga & teman.

Rhonita dan Dawna ingin ke sana untuk menghadiri pernikahan, namun Christina mengunjungi mertuanya sebelum tukar ke AS. Dia dan keenam anaknya akan bertemu dengan suaminya, Tyler, yang bekerja untuk pabrik minyak di North Dakota.

Perjalanan sepi

Suangi sebelumnya, dalam pesta perpisahan Christina, sejumlah perempuan itu mendiskusikan jalan menuju LeBaron. Rutenya mereka kenal, tapi sunyi. Jalan berdebu itu menanjak melalui celah sempit dalam gunung, kemudian menurun ke zona Chihuahua.

“Kami bicara tentang betapa bodohnya kami sebagai perempuan bepergian melalaikan jalan ini sendiri bersama anak-anak kami, ” kata Amelia, pokok Christina, kepada BBC.

Namun, menurut Amelia, putrinya tertawa dan berkata bahwa dirinya tidak takut.

Sebelum bertolak, Christina menitipkan lima dari enam anaknya kepada Amelia dan menempatkan bayinya, Faith, yang masih menyusu, ke kursi khusus bayi di pada mobil. Secara keseluruhan, ada 14 anak dan tiga perempuan masa dalam perjalanan tersebut.

Adik perempuan Rhonita, Adrianna, sedangkan bepergian ke Kanada bersama suaminya untuk merayakan ulang tahun ijab kabul ketika dia menyadari ada objek yang salah. Sebuah pesan dalam grup percakapan keluarga pada permintaan WhatsApp muncul: “Mohon, para puak. Doakan ini tidak benar-benar terjadi”.

Suruhan berikutnya, yang dikirim ke suaminya, berbunyi: “[Mobil] Suburban Nita terbakar dan penuh dengan peluru. ”

“Namun mereka tidak berharta di dalamnya kan? ” tanya Adrianna kepada suaminya ketika tersebut.

“Tiada yang melakukan hal semacam itu kepada bayi-bayi, perempuan, dan empat bocah. Mungkin mereka menculik & membakar kendaraannya? ”

Jawabannya muncul melalui diskusi telepon 45 menit kemudian.

“Suami saya membalikkan badannya ke arah aku dan berkata: ‘Mereka semua sudah tiada. Mereka semua terbakar. ”

Kenny Miller adalah satu diantara orang dengan mencapai lokasi kejadian.

Dia mendengar perkataan ledakan tak jauh dari rumahnya di La Mora dan meminta salah satu putranya mencari cakap. Menurutnya, putranya tersebut sempat menyaksikan enam pria di dalam kaum mobil baru, bersenjatakan senapan otomatis, dan perlengkapan ala militer.

Seorang kerabat mengirim drone untuk menjajaki daerah sekitar. Begitu Kenny tahu situasinya aman, dia mendekati tempat.

“Di situlah kami menyadari (Rhonita dan anak-anaknya] berada di di dalam [mobil] Suburban dan mereka tidak bisa keluar.

Mobil tersebut seperti timbunan besi yang gosong.

“Saya tidak tahu akan menjadi seperti berkah bisa berpisah pada jenazah. Namun, itu tidak kesampaian, ” katanya sambil terisak. “Hampir tidak ada sisanya. ”

Penuturan anak Dawna, yang berkecukupan di dalam mobil dan selamat daripada serangan, memungkinkan kepolisian menyatukan bervariasi kepingan fakta.

Para pria bersenjata menunggu dalam lokasi dan melepaskan tembakan ke tiga kendaraan. Mobil Rhonita, yang posisinya beberapa menit dari La Mora, adalah yang kena pertama. Rhonita, bayi kembar delapan kamar Titus dan Tiana, Krystal, 10 dan Howard Jr, 12 mati.

Para penyerang lantas membakar instrumen tersebut.

Mobil berikutnya yang kena sasaran merupakan kendaraan Dawna.

Dawna dan besar putranya, Trevor, 11, dan Rogan, 3, tewas. Anak-anak Dawna lainnya berhasil lolos dari kendaraan tersebut. Devin, 13, memerintahkan enam adiknya bersembunyi di semak-semak, sedangkan dirinya berbalik ke La Mora berlaku kaki. Perjalanan 22, 5 kilometer itu memerlukan waktu enam jam.

Taat kesaksian anak-anak penyintas, Christina lompat dari mobilnya ketika penembakan dimulai. Dia melambaikan tangan di arah kepala, kemungkinan memberi kode kepada para penyerang bahwa hanya tersedia perempuan dan anak-anak yang berkendara beriringan. Tubuhnya ditemukan sekitar 15 meter dari mobil putihnya.

Tatkala rombongan mobil dari LeBaron tiba delapan jam kemudian, mereka menemukan budak Christina, Faith, dalam keadaan tumbuh dengan hanya sedikit goresan pada kepala.

Pascaserangan, sejumlah teori, beberapa di antaranya terang mengada-ada, tersebar. Beberapa orang mendakwa serangan itu terkait dengan perselisihan terkait hak pengelolaan air jarang keluarga LeBaron dan sejumlah peternak setempat.

Lainnya menyangka peristiwa tersebut disengaja untuk mempermalukan Menteri Keamanan, Alfonso Durazo, yang berasal dari Bavispe, kota dekat lokasi perkara.

Tetapi, dugaan aparat adalah kejadian tersebut adalah bagian dari pertikaian antara La Linea, kelompok kartel dengan kuat di Negara Bagian Chihuahua, dan kelompok terkait kartel Sinaloa.

Baku tembak antara kedua gabungan di Agua Prieta yang depan lokasi kejadian, ditengarai membuat ketegangan meninggi. Diyakini bahwa para personel La Linea menyangka melihat tandingan ketika iring-iringan kendaraan SUV berkaca hitam melaju di jalan berdebu menuju pegunungan.

Kebrutalan serangan, dan dua kewarganegaraan para korban, membuat peristiwa ini disoroti khalayak internasional.

Kurang jam setelah berita serangan mengemuka, Biro Investigasi Federal AS (FBI) mengirim beberapa agen untuk membantu penyelidikan kepolisian Meksiko. Presiden Donald Trump melontarkan ancaman kepada Meksiko bahwa aksi kekerasan kartel mampu berujung pada intervensi militer.

Namun risiko itu tidak berwujud dan pengkajian berlangsung lambat.

Pejabat Departemen Kehakiman Meksiko mengatakan kepada BBC, sebanyak 12 orang ditangkap terkait serbuan itu, namun hanya dua dalam antara mereka yang dituduh secara dakwaan pembunuhan. Tanggal sidang belum kunjung muncul.

Pernikahan poligami

Komunitas yang menikmati serangan tersebut sudah ada dalam daerah Meksiko itu selama beberapa generasi. Kisah bagaimana nenek moyang mereka datang dari AS dan bermukim di situ berakar dari anutan mereka nan unik.

Pernikahan poligami umum terjadi di Gereja Mormon, dengan juga dikenal dengan sebutan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Nirmala Zaman Akhir. Namun, ketika Negeri Bagian Utah yang berpenduduk mayoritas penganut Mormon bergabung dengan Amerika Serikat, praktik poligami menjadi perintang.

Karenanya, pada 1890, Ketua Gereja Mormon, Wilford Woodruff, melarang pernikahan poligami dilangsungkan.

Para penganut Mormon fundamentalis lalu mencari tempat di luar GANDAR untuk bermukim. Banyak dari itu yang menyeberang Sungai Rio Grande, menuju Meksiko. Mereka memperoleh nama baik sebagai pekerja keras dan petani yang bersemangat. Aparat setempat mendiamkan praktik pernikahan poligami mereka, menetapi kontribusi mereka pada ekonomi.

Jenny Langford pertama kali datang ke Meksiko pada 1971, di usia 23 tahun. Sebelumnya, perempuan asal Wales tersebut bekerja di AS semasa setahun dan bertemu penganut Mormon asal Amerika, Dan Langford, pada Las Vegas.

“Ketika saya sedang kecil, saya selalu bermimpi hidup di lahan pertanian dan memiliki banyak anak, ” kata Jenny. “Saya tidak pernah menyangka aku akan tinggal di Meksiko. ”

Kala dia dan Dan tiba di La Mora, satu-satunya bangunan hanyalah rumah kecil terbuat dari batu bata yang dimiliki ayah &.

“Kami tidak punya listrik saat itu. Sangat sulit.

“Tapi kami hidup bersahaja dalam segala hal. Kami memendam tanaman pangan kami sendiri. Awak tidak ingin menjadi bagian lantaran arus utama. Boleh dibilang kami sedikit pemberontak. ”

Dan dan saudara-saudaranya membangun bengkel kerja, tempat penampungan hewan ternak, dan sebuah sekolah. Jenny melahirkan enam anak pria dan tiga perempuan, serta menjadi guru bagi mereka.

Keluarga mereka terus berkembang. Setelah 10 tahun, seorang perempuan baru datang ke La Mora. Amelia adalah perempuan Amerika yang tinggi, hampir 20 tarikh lebih muda dari Jenny.

“Begitu hamba melihat Amelia, saya tahu suatu saat dia akan menjadi pedusi Dan. Mereka pun kemudian menikah, ” tutur Jenny.

Praktik poligami tidak mudah diterima Jenny.

“Namun, semakin banyak saya belajar, saya merasa itu yang diinginkan Tuhan bagi beta. Kami percaya bahwa jika dalam masa lalu hal itu betul, maka saat ini juga benar, ” katanya.

Secara keseluruhan, Jenny serta Amelia punya 102 keturunan. Jenny, seorang perawat terlatih, membantu persalinan mereka.

“Kami menggelar syukuran untuk pada setiap anak pertama dan ke-12, ” kata Jenny, tertawa seraya menampilkan hidangan tradisional Meksiko. “Ketika Tuhan mengatakan ‘Pergilah dan beranakcuculah’, ana melaksanakan kata-kataNya, ” kata Jenny.

“Anaknya adalah anak saya. Anak hamba adalah anaknya, ” kata Jenny merujuk Amelia. “Jika saya ingin bepergian, Amelia di sini bergabung anak-anak dan begitupun sebaliknya. Itu benar-benar cocok buat kami. ”

Anak-anak Jenny dan Amelia suka dengan kebebasan di La Mora.

“Kami bisa melakukan apapun di sini, ” kata Steven, cucu Jenny berusia 13 tahun, sembari memerah seekor sapi yang berukuran lima kali lebih besar dari tubuhnya.

“Kami bisa memancing dan berenang, mengendarai motor. ”

“Tidak ada petugas, ” katanya tersenyum.

Kekerasan masa lalu di Colonia LeBaron

Jika La Mora tampak laksana peternakan desa, Colonia LeBaron porakporanda komunitas yang dituju Christina, Rhonita, dan Dawna – adalah pusat kekuasaan penganut fundamenmtalis Mormon di Meksiko.

Di sana, kacang pecan ditanam di lahan pertanian untuk diekspor ke berbagai penjuru dunia, dan kaum prianya melepas penas secara mengunjungi lapangan tembak atau wadah minuman setempat. Lokasinya lebih dekat ke Texas, baik secara harfiah maupun metafora.

Paman Rhonita Miller, Julian LeBaron, adalah salah satu pemimpin komunitas Mormon. Dia paham sungguh ancaman bahaya kelompok-kelompok kartel kepada komunitasnya.

Pada 2019, adik Julian, ketika itu masih berusia 16 tahun, diculik oleh para anggota golongan setempat. Mereka menuntut uang bayaran sebanyak US$1 juta, namun masyarakat LeBaron menolak membayar.

Alih-alih membayar uang tebusan, komunitas LeBaron menggelar tindakan protes SOS Chihuahua yang mempermalukan para kartel sehingga mereka meluluskan Eric.

Benjamin LeBaron, abang Julian, menjadi juru bicara gerakan itu. Tempat berbicara dengan bahasa Spanyol pada wartawan dan sukses mengajak gubernur setempat untuk bertemu.

Setelah melakukan lagu tiada henti selama berpekan-pekan, Eric dibebaskan tanpa luka. Lebaron kemudian menjadi pahlawan di Meksiko sebab mereka menolak tunduk pada syarat kartel. Namun, Benjamin tahu tersedia harga yang harus dibayar karena berani melawan kartel.

Dua bulan lalu, 15 pria bersenjata mendobrak pintu rumah Benjamin. Mereka meringkus Benjamin, saudara iparnya, dan tetangganya, Luis Widmar, ke dalam sebuah mobil yang menunggu.

“Orang-orang itu membawa mereka sejauh empat mil, menyuruh mereka berlutut, serta menembak mereka—empat tembakan untuk di setiap orang—pada bagian belakang kepala, ” kata Julian.

“Abang saya berani. Dia tahu bahwa tidak membayar uang tebusan untuk membebaskan Eric hampir dipastikan akan membuatnya kehilangan hidup. ”

Serangan itu merupakan titik pulih bagi Colonia LeBaron. Didorong sikap skeptis bahwa pemerintah Meksiko akan memenuhi janji untuk menyediakan kesejahteraan, LeBaron memutuskan menempuh langkah sendiri. Mereka menciptakan patroli bersenjata sendiri, dan lokasi pemantauan di sekeliling kota.

“Selama 10 tahun tiada yang menganggu kami. Namun kami tak pernah menerima keadilan untuk pidana tersebut. Bahkan, sebagian besar kebiadaban di Meksiko tidak menerima keadilan, ” kata Julian.

Karena itu, lambannya kemajuan penyelidikan terkait pembunuhan sebanyak perempuan dan anak-anak mereka tidak mengejutkan Julian.

“Kami tidak lagi percaya aparat. Selang 12 bulan setelah serangan, mereka tidak kunjung menghukum para pelakunya.

“Kami tidak akan pernah diam. Saya tidak akan memberikan praduga tak bersalah kepada aparat. ”

Hari kembali tahun Rhonita pada September lulus adalah yang pertama kali diperingati tanpa kehadirannya.

“Kami masih sangat menderita, dan pada bersamaan mencoba untuk terus menjalani hidup, ” perkataan saudara kandung Rhonita, Adrianna.

“Enam bulan lalu hamba punya banyak harapan. Semakin penuh saya paham sistem Meksiko, semakin kurang keyakinan saya bahwa saya akan memperoleh keadilan. ”

Namun Kenny Miller lebih diplomatis.

“Nenek moyang ana datang ke sini dari AS, dan Meksiko menerima mereka secara tangan terbuka. Karena itu, saya menghormati aparat yang dipilih sebab rakyat.

“Tentu ada aksi kekerasan kartel dan itu langsung berdampak di kami. Tapi kami menuntut kesamarataan melalui jalur yang benar. ”

Kepala Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador, berupaya meyakinkan masyarakat bahwa pemerintahannya bisa menangani peristiwa ini.

Dia telah beberapa kali menemui para tim korban. Pada pertemuan terkini, Oktober lalu, dia meresmikan markas Garda Nasional baru dekat komunitas La Mora, mengumumkan pembangunan jalan awam yang memangkas waktu perjalanan ke perbatasan AS, serta monumen yang menghormati para mendiang korban pembunuhan.

Saat berkampanye, Obrador berjanji akan mengurangi gerak laku kekerasan dengan menggunakan pendekatan berjargon “pelukan, bukan peluru”. Dia berkomitmen bahwa dengan memberantas kondisi dengan membuat orang-orang mau direkrut kartel, kekuatan kelompok-kelompok tersebut akan dilemahkan.

Mau tetapi, aksi kekerasan justru meningkat ketika Obrador memimpin Meksiko. Setahun setelah serangan, aksi-aksi kekerasan di Meksiko tampak paling keji.

Persaingan antara kelompok kartel semakin sengit, baik karantina wilayah terkait pandemi Covid-19 diberlakukan. Lebih jauh, kelompok-kelompok pecahan dari sejumlah kartel terbukti menyetujui menggunakan taktik yang lebih ceroboh demi mendapatkan apa yang itu inginkan.

Kerap kali warga sipil terperangkap dalam rivalitas mereka.

Harapan untuk era depan

Setahun setelah peristiwa pembunuhan tiga perempuan dan anak-anak mereka, sekolah dan bengkel kerja di La Mora tampak sunyi. Sekitar dua-pertiga dari 30 keluarga di di dalam komunitas tersebut telah pergi, umum menetap di bagian selatan Negeri Bagian Utah, AS.

Jenny dan Amelia adalah perut dari segelintir orang yang memilih menetap di La Mora. Jenny begitu pasrah setahun setelah gempuran.

“Saya sudah tinggal di sini selama 48 tahun. Saya tidak akan pernah pergi. Saya merasa kalau akan tewas oleh peluru, maka akan tewas oleh peluru. ”

Menanggapi anak-anak serta keluarga mereka yang telah lari, dia optimistis mereka akan balik suatu hari nanti.

“Ada ungkapan bahwa hal yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita adalah pokok dan sayap. Saya merasa kami telah memberikan mereka akar dan mereka akan selalu kembali. Pada sinilah tempat mereka. ”