Categories
Data

MUI desak hentikan karikatur Nabi Muhammad sebagai ‘biang keladi’ kekerasan, pengamat sarankan Indonesia gelar dialog

3 jam yang lalu Sumber gambar, Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO Kecaman yang dilayangkan pemerintah Nusantara atas pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, disebut pengamat tidak cukup karena tak menyentuh persoalan kekerasan yang menimpa seorang guru sebab memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad.

Kecaman yang dilayangkan negeri Indonesia atas pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, disebut pengamat tidak cukup karena tak menyentuh masalah kekerasan yang menimpa seorang kiai karena memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menyarankan Indonesia mengambil langkah dialog buat menyamakan pandangan atas nilai-nilai ataupun ajaran Islam yang kerap bertentangan dengan sekularisme di Prancis.

Tatkala itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Presiden Macron segera menodong maaf kepada seluruh umat Agama islam dan menghentikan penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo yang disebutnya sebagai “biang keladi” kekerasan di Prancis.

Merespons hal itu, Kementerian Luar Negeri menyebut mencari jalan mendorong diaktifkannya dialog antar agama.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, pengamat Timur Tengah dibanding Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menyebut Presiden Prancis Emmanuel Macron semestinya tidak langsung menyimpulkan perbuatan pemenggalan kepala seorang guru Samuel Paty dengan agama Islam.

Ia menilai tanggapan Macron tidak menunjukkan kepekaan kepada umat Islam yang memercayai kesucian Rasul Muhammad sehingga sosoknya tidak dapat digambar.

Sehingga imbas pernyataan Macron itu, menurutnya, justru memicu respons yang sesungguhnya tidak perlu sesuai aksi boikot terhadap produk-produk Prancis.

“Tentu kita prihatin atas perkara itu tapi hendaknya respon Pemimpin Macron tidak terlalu simplifikasi masa kemudian menyampaikan ‘Islam dalam iklim krisis’, ” ujar Yon Machmudi kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (28/10).

“Karena itu menyangkut keyakinan dengan dianut umat Islam di negeri, ” sambungnya.

‘Kecaman tidak mengenai persoalan utama’

Indonesia sejauh itu baru mengecam pernyataan Presiden Emmanuel Macron tersebut karena dianggap memojokkan agama Islam.

Tapi kata Yon, kecaman itu tidak cukup. Negeri Indonesia, lanjutnya, juga harus berbahasa tentang pelaku kekerasan yang menjadikan kematian Samuel Paty.

Ia menduga sikap pemerintah tak lepas dari pernyataan sejumlah pemimpin negara dengan menyampaikan kritik atas pernyataan Macron. Hanya saja kritik maupun tuduhan tidak menyentuh persoalan utama.

Dia memperhitungkan, Indonesia sebagai negara dengan warga Islam terbesar bisa mengambil kedudukan lebih. Yakni mengajak Presiden Emmanuel Macron untuk berbicara tentang dengan jalan apa menyamakan persepsi atas ajaran petunjuk Islam dengan sekularisme di Prancis.

“Paling tidak komunikasi dibangun dan mudah-mudahan peristiwa seperti ini bisa diminimalisir dampak-dampaknya ke depan. ”

“Pembicaraan perbincangan diperlukan agar sama-sama memahami status antara Indonesia sebagai mayositas pengikut Islam dan Prancis dengan sekularismenya. ”

Di Solo, unjuk rasa diwarnai ‘menginjak-injak’ poster Macron

Sejumlah negara semacam Turki, Arab Saudi, Qatar, serta Maroko satu suara mengecam penjelasan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Akhirnya, kecaman itu berbuah aksi boikot terhadap produk Prancis.

Di Kuwait, Yordania, dan Qatar barang-barang bermerek dagang dari Prancis telah ditarik sejak beberapa toko.

Di Indonesia, pekik boikot disuarakan Dewan Syariah Praja Surakarta (DSKS) dalam aksi presentasi yang digelar di Bundaran Gladak, Solo, Rabu (28/10).

Ratusan orang itu mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya dengan meletakkan foto Presiden Macron di jalan raya sehingga terlindas kendaraan dan menginjak-injaknya.

Massa serupa membentangkan spanduk yang berisi lambaian boikot.

“Kami mengimbau kepada umat Islam pada manapun untuk mempertimbangkan melakukan boikot pembelian dan pemakaian produk apapun buatan Prancis, ” ujar Spesialis bicara DSKS, Endro Sudarnono, Rabu (28/10), seperti dilaporkan wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC News Indonesia.

“Presiden Macron mengeluarkan statement yang bersifat Islamofobia sekaligus melindungi majalah Charlie Hebdo yang jelas-jelas mengabulkan publikasi terhadap pelecehan Nabi Muhamad SAW, ” sambungnya.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, berkata karikatur Nabi Muhammad merupakan hal sensitif bagi umat Islam. Tapi hal itu, klaimnya, tak dipahami pemerintah Prancis.

“Dalam pegangan Islam, haram hukumnya mencela Tuhan orang lain. Kalau kamu mencela, mereka akan mencela Tuhanmu. Jika Charlie Hebdo tidak menghiraukan nilai-nilai agama, itu kesalahan berat, ” ujar Anwar Abbas kepada BBC.

Apa tanggapan MUI atas pernyataan Macron?

MUI berpendapat, pernyataan Presiden Macron mengundang permusuhan dan perselisihan kaum muslimin.

Kendati perbuatan memenggal kepala Samuel Paty tidak bisa dibenarkan tetapi, katanya, tindakan guru sejarah tersebut yang memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad ke murid-muridnya lebih tidak bisa dibenarkan.

“Kalau menurut saya tindakan kekerasan itu salah tapi dengan memancing orang berbuat salah tersebut lebih salah lagi. ”

Itulah mengapa, ia mendesak Presiden Macron segera menghentikan penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo yang disebutnya sebagai “biang keladi” kekerasan di Prancis.

Namun demikian, MUI belum menganjurkan lagak boikot terhadap produk Prancis.

“Tidak sekarang. Kalau enggak ada perubahan dan sikap dari Presiden Macron dan Charlie Hebdo akan awak imbau boikot. Untuk selesaikan itu gampang, Macron minta maaf pada umat Islam. Saya yakin pengikut Islam akan memaafkan. ”

‘Umat Agama islam harus tenang menyikapi masalah ini’

Di sisi berbeda, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, berpandangan barang apa yang dikatakan Presiden Emmanuel Macron bahwa Islam mengalami krisis tak sepenuhnya salah.

Ini karena keyakinan Islam belum sampai pada “konstruksi sosial-politik yang dibutuhkan untuk berintegrasi secara damai dan harmonis dengan dunia”.

Kendati demikian, ia melihat jalan Presiden Macron menyikapi permasalahan pada negaranya cenderung sepihak yakni dengan sudut pandang sekularisme dan membelakangi ajaran agama Islam.

“Karena Rasul Muhammad SAW adalah subyek suci dalam agama Islam dan ialah simbol utama Islam. Merendahkan kehormatan Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam, ” jelasnya.

“Tapi menanggapi penghinaan terhadap Nabi dengan membunuh pelakunya adalah kegiatan biadab yang berpotensi memicu instabilitas yang meluas tanpa kendali, ” sambungnya.

Sebab itulah, ia meminta umat Agama islam di Indonesia menyikapi persoalan tersebut dengan tenang dan tidak terbawa secara emosional.

Solusi atas kebengisan yang terjadi di Prancis, katanya, dengan menggelar dialog antar-negara yang didasarkan atas konsensus terhadap nilai-nilai keadaban yang disepakati bersama.

Barang apa respon pemerintah?

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Kampung, Teuku Faizasyah, mengatakan pemerintah turut mengecam tindakan pelaku pembunuhan Samuel Paty. Tapi pemerintah menilai mencampur perbuatan itu dengan agama “adalah suatu kesalahan besar”.

Pada Selasa (27/10), Kementerian Luar Negeri memanggil Duta Besar Prancis, Olivier Chambard. Pada pertemuan itu, kata Teuku, Olivier menyampaikan maksud pernyataan Presiden Macron.

Lewat Duta Besar RI di Prancis pula, Indonesia melayangkan nota diplomatik yang mendorong diaktifkannya dialog antar-agama sehingga menumbuhkan “pengertian yang lebih baik terhadap perbedaan pegangan, ” kata Teuku.

Sementara mengenai seruan boikot, pemerintah tidak bisa melarang. Tapi pemerintah tidak hendak memberikan ruang bagi tindakan dengan bakal merugikan hubungan bilateral ke-2 negara.