Categories
Data

Konsorsium penyelundup manusia ‘rancang’ kedatangan 99 orang etnis Rohingya di Aceh, kata polisi

2 jam yang lalu Sumber gambar, ANTARA FOTO/RAHMAD Kepolisian Daerah Aceh menangkap 4 dari enam orang yang diduga bagian dari sindikat penyelundupan 99 orang etnis Rohingya yang muncul di Lancok, Kabupaten Aceh Mengadukan, pada Juni 2020. Aktor utamanya diduga orang Rohingya yang telah lama tinggal di Medan dalam bawah akomodasi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Kepolisian Daerah Aceh menangkap empat dari enam orang yang diduga bagian dari konsorsium penyelundupan 99 orang etnis Rohingya yang tiba di Lancok, Kabupaten Aceh Utara, pada Juni 2020. Aktor utamanya diduga orang Rohingya yang telah lama tinggal dalam Medan di bawah akomodasi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Di dalam konferensi pers yang berlangsung pada Mapolda Aceh, Selasa (27/10), Kepala Direktorat Reserse Kriminal Umum, Kombes Sony Sanjaya, mengatakan AR merancang penjemputan ke-99 orang etnis Rohingya yang berada di tengah bahar.

“AR merupakan orang Rohingya yang selalu aktor dari penjemputan 99 karakter lainnya. Sedangkan AJ warga lokal yang ikut membantu AR. Saat ini keduanya masih dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), ” kata Kombes Sony Sanjaya sebagaimana dilaporkan Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melayani reportase untuk BBC News Nusantara.

Selain AR, orang etnis Rohingya lainnya yang terlibat dalam kasus penjemputan 99 orang Rohingya di sedang laut ialah SD. AR serta SD diketahui sudah berada di Penampungan di Medan sejak 2011 lalu. Mereka dibantu oleh tiga orang warga Indonesia.

Pihak Kepolisian Daerah Aceh mengumpulkan barang bahan berupa dua unit HP, GPS MAP-585 warna hitam, kapal nomor lambung KM Nelayan 2017-811 (10 GT) telah dipinjam pakai sebab ketua koperasi, dan surat sewa menyewa kapal dari Koperasi Besar Indah Aceh Utara.

Bagaimana tuduhan asal penyelundupan 99 orang Rohingya?

Dalam peristiwa ini diduga lebih dari enam orang terlibat dalam keberangkatan 99 orang Rohingya dari Cox’s Pasar murah di Bangladesh, menuju Kabupaten Aceh Utara. Dari dalam wilayah segara Indonesia, Kepolisian Daerah Aceh sekitar ini sudah menangkap empat karakter, dan dua lainnya masih buron. Salah satu buronan adalah orang etnis Rohingya berinisial AR.

Menurut keterangan Kepala Direktorat Reserse Kriminal Umum, Kombes Sony Sanjaya, AR menganjurkan AJ yang merupakan warga Kabupaten Aceh Timur untuk melakukan penjemputan 99 orang di tengah bahar.

Kemudian keduanya menawarkan pekerjaan pada FA untuk menjemput ke-99 karakter tersebut. Namun, pada pertemuan perdana di rumah AJ di Aceh Timur, mereka tidak menemukan suara.

Keesokan harinya, ketiganya bertemu kembali untuk membahas kelanjutan pembicaraan. Saat tersebut, dua orang lainnya ikut datang, yakni AS (warga lokal) dan SD (orang etnis Rohingya). Pada kesempatan tersebut, mereka bersepakat buat melakukan penjemputan.

Melalui persetujuan kala itu, jumlah Warga Negara Asing (WNA) yang akan dijemput sebanyak 36 orang.

Apa peran masing-masing tersangka?

Sesudah mendapatkan kesepakatan untuk penjemputan, FA mengajak seorang warga lokal lainnya, yaitu R yang merupakan pemimpin Koperasi Samudera Indah Aceh Mengetengahkan, untuk membuat surat sewa-menyewa kapal dengan biaya sebesar Rp10 juta. Uang itu dibayar oleh AR.

Dalam kesepakatan tersebut, yang bertugas menjemput adalah SD (etnis Rohingya), GANDAR, FA, dan R, dengan memakai kapal bernomor lambung KM Nelayan 2017-811 (10 GT). Sementara AJ dan AR menunggu di darat, setelah memberikan titik koordinat penjemputan.

Di dalam perjanjian awal, para simpulan disebut menyetujui kalimat sandi “membeli makan dan rokok” yang artinya memulai penjemputan, serta kalimat isyarat lainnya ketika bertemu dengan kapal besar pembawa orang-orang Rohingya pada tengah laut. Saat menjemput, rombongan orang Rohingnya yang diturunkan dibanding kapal besar tersebut mencapai 99 orang, bukan 36 orang berdasarkan kesepakatan awal.

Berapa biaya untuk menjemput ke tengah laut?

Dalam dua kala pertemuan, para tersangka disebut mempercakapkan upah dari jasa penjemputan orang-orang Rohingya di tengah laut. Akan tetapi jumlah tersebut masih belum diketahui pasti dari penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

Kombes Sony Sanjaya mengatakan jumlahnya hanya sekian juta per individu yang dijemput. Namun jumlah yang baru dibayar ialah Rp10 juta untuk bea sewa kapal.

“Tapi kan itu belum terbayar, keburu kapalnya mendarat salah tempat, jadi tidak ketemu tepat dengan orang yang menunggu pada tempat koordinat yang telah ditentukan sebelumnya, ” kata Sony.

Menurut Sony, seharusnya ke-99 orang etnis Rohingya mendarat di lokasi lain di Aceh Utara. Namun karena kapal rusak, mereka mendarat ke tempat terdekat.

Surat dan di mana 99 orang etnis Rohingya diturunkan?

Tepat pada tanggal 22 Juni 2020, empat orang yang ditugaskan menjemput rombongan etnis Rohingya tersebut bergerak dari sandaran nelayan di Seunuddon, Aceh Memajukan, menuju titik koordinat yang sudah ditentukan sebelumnya.

Namun, pada 24 Juni 2020, salah seorang dengan bertugas menjemput rombongan tersebut menelpon ke darat untuk memberitahukan bahwa kapal yang mereka gunakan buat melaut mengalami kerusakan mesin, setelah membantu mengevakuasi puluhan orang etnis Rohingya.

Saat itu, jarak mereka dengan daratan sekitar 4 mil dari bibir pantai Seunuddon, Aceh Melahirkan.

Pada saat bersamaan, sejumlah nelayan Aceh melihat keberadaan rombongan etnis Rohingya di tengah laut. Bagian Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (FORKOPIMDA) Kota Lhokseumawe sebelumnya berencana untuk memberikan makanan dan logistik yang lain, kemudian kapal rombongan tersebut bakal didorong kembali ke tengah laut.

Tetapi warga sekitar pantai Lancok, Aceh Utara, memprotes pihak keamanan had mengambil kapal nelayan pribadi untuk menarik mereka ke darat. Peristiwa tersebut terjadi pada 25 Juni 2020.

Kepala Direktorat Reserse Kriminal Umum, Kombes Sony Sanjaya, mengucapkan bahwa terdamparnya puluhan orang etnis Rohingnya pada Juni lalu tidak semata karena kemanusiaan, melainkan tersedia upaya penyelundupan manusia.

Apa ada hubungan dengan sindikat internasional penyelundupan bani adam?

Kombes Sony Sanjaya mengatakan sejauh tersebut pihaknya baru dapat mengeluarkan tanda terkait dugaan penyelundupan manusia buatan kerja sama etnis Rohingya secara warga lokal.

Mengenai apakah mereka berkorelasi dengan sindikat penyelundupan pribadi internasional, menurutnya hal itu tersebut merupakan ranah Mabes Polri buat menjelaskan.

Tindak pidana penyelundupan manusia diancam dengan pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling periode 15 tahun, kemudian denda memutar sedikit Rp 500 juta serta paling banyak Rp 1, 5 miliar melalui Pasal 120 bagian 1 UU Nomor 6 tarikh 2011 tentang Keimigrasian.

Apa lagi yang diungkap?

Selain mengungkap dugaan sindikat penyelundupan etnis Rohingya gelombang pertama pada Juni 2020, Kepolisian Daerah Aceh menangkap dua tersangka yang bertindak menjemput tiga orang dalam rombongan gelombang kedua pada September 2020, di Balai Latihan Kerja (BLK) Lhokseumawe.

“Dalam kasus ini ada perut orang yang kita tangkap yaitu seorang perempuan asal Medan berinisial P dan satu lagi S warga Rohingya di Medan, ” kata Kombes Pol Sony Sanjaya.

S disebut menyuruh P, seorang rani warga Medan, untuk menjemput tiga orang Rohingya gelombang kedua dengan datang bersama 297 orang di dalam September lalu.

Tapi belum berhasil membawa kabur tiga orang Rohingnya, P ditangkap oleh polisi pada, Selasa (13/10). Adapun S ditangkap dalam Medan, Sumatera Utara.

Sejauh ini sudah 12 orang etnis Rohingya dari gelombang satu dan dua yang kabur dari BLK Lhokseumawe, namun tiga di antara mereka sudah didapatkan sebelum tiba ke Kawasan. Sisanya belum dapat dipastikan keberadaannya.

Indikasi penyelundupan manusia

Dalam wawancara BBC Indonesia secara Chris Lewa dari organisasi non-pemerintah Arakan Project beberapa waktu lulus, terdapat indikasi penyelundupan manusia terkait kedatangan dua rombongan etnis Rohingya di Aceh sejak Juni cerai-berai.

Selain ditolak oleh negara-negara Asia Tenggara, alasan lain mengapa etnis Rohingya terombang-ambing di lautan selama enam bulan adalah karena mereka “dijadikan tawanan” oleh kelompok penyelundup pribadi.

“Penyelundup manusia ini ingin dibayar, maka mereka menawan para penumpang, itulah kenapa kelompok ini menghabiskan zaman lama di lautan sebelum itu mendarat [di Aceh], ” terang Chris.

“Kami menghubungi beberapa kerabat para penumpang ini, mereka mengatakan telah membayar [biaya perjalanan] di dalam Mei lalu, namun kenapa mereka belum mendarat saat itu adalah karena belum semua penumpang dalam kapal telah membayar. Jadi mereka menawan mereka di tengah segara, ” tambahnya.

Menurut Chris, kapal besar yang mengangkut pengungsi Rohingya dibanding Bangladesh itu diatur dari Myanmar.

“Lalu mereka ke Bangladesh untuk menjemput mereka. Kapal ini tidak sudah memasuki perairan Bangladesh, ” jelasnya.

“Jadi para penumpang ini ditransfer ke kapal-kapal yang lebih kecil dalam tengah lautan. Siapa para penyelundup manusia ini? Kami tidak terang, ” kata Chris.

Chris meyakini bahwa akan ada kapal-kapal yang mengangkut komunitas Rohingya dalam beberapa bulan ke depan, terutama di musim puncak yang biasanya jatuh di “akhir Oktober atau November. ”

Tanda penyelundupan manusia juga diutarakan Gajah Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi.

Tempat mengatakan Indonesia menekankan pentingnya kegiatan sama untuk melawan kejahatan lintas batas, termasuk penyelundupan manusia.

“Karena diduga saudara-saudara kita ini juga merupakan korban dari kejahatan lintas batas, ” tukas Retno.