Categories
Data

Sumpah Pemuda 92 tahun: Jejak Sie Kong Lian di rumah Bulevar Kramat Raya 106

sejam yang lalu Sumber gambar, Dok. Pribadi Sebuah rumah berarsitektur kurun kolonial berdiri tegak di Ulama Kramat Raya Nomor 106, Jakarta. Di sinilah tempat lebih daripada 700 pemuda dari berbagai wilayah berkumpul pada 28 Oktober 1928 untuk menghadiri Kongres Pemuda kedua.

  • Jerome Wirawan
  • Wartawan BBC News Indonesia

Sebuah rumah berarsitektur era kolonial berdiri tegak di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta. Dalam sinilah tempat lebih dari 700 pemuda dari berbagai daerah berhimpun pada 28 Oktober 1928 untuk menghadiri Kongres Pemuda kedua.

Rumah ini sejatinya adalah rumah indekos sejumlah pemuda yang belakangan berperan penting dalam sejarah Indonesia.

Beberapa di antara mereka ialah Ketua Kongres Pemuda II, Sugondo Djojopoespito; Muhammad Yamin, perumus tulisan atau ikrar Sumpah Pemuda; had satu diantara pentolan Partai Komunis Indonesia, Amir Syarifuddin.

Seringnya para pemuda berinteraksi memunculkan gagasan untuk mendiskusikan kala depan bangsa di bawah penjajahan Belanda. Dari situlah mereka punya inisiatif untuk mengadakan Kongres Muda pertama pada 1926, lantas kongres kedua pada 1928 yang mengemukakan tiga ikrar.

“Setelah rumah kos ini mulai ditinggali oleh Muhamad Yamin, Amir Syarifudin, dan Soegondo Djojopuspito mereka itu mendirikan perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia atau PPPI, ” rata Eko Septian Saputra selaku Kurator Museum Sumpah Pemuda.

Eko menjelaskan sendi di Jalan Kramat Raya 106 itu dijadikan kantor PPPI berangkat tahun 1926.

“Banyaknya perkumpulan, aktivitas, dialog kebangsaan di sini, dari situlah mereka punya inisiatif bagaimana zaman depan bangsa yang di bawah penjajahan Belanda itu dengan menghadirkan Kongres Pemuda I. Kongres Muda I ini merupakan cikal bakal adanya Kongres Pemuda kedua 1928, ” kata Eko.

Berkumpulnya para pemuda menimbulkan risiko bagi mereka maupun sang pemilik rumah kos, yakni seorang Tionghoa bernama Sie Kong Lian.

Pasalnya, para intel pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu gencar menyoroti gerakan pembangkangan.

“Bayangkan pemuda-pemuda di sini diskusi seharian soal kebangsaan. Seandainya itu Sie Kong Lian sudah merasa membahayakan dirinya, mungkin tempat inisatif, diusir saja para pemuda itu, tapi ternyata tidak membangun, nyatanya Sie Kong Lian memberi ruang buat para pemuda buat tinggal, berdiskusi, dan semuanya lega begitu saja, ” jelas Eko.

Saat masih hidup, Sie Kong Lian tinggal di rumahnya yang terletak di Jalan Senen Raya, sekitar 800 meter daripada rumah kos di Jalan Kramat Raya 106.

Kini rumah itu dijadikan tempat praktek cucu serta cicitnya yang berprofesi sebagai sinse. Saya mengunjungi rumah itu dan bertemu dengan Yanti Silman, cucu Sie Kong Lian.

“Kakek kami hidup dan meninggal di rumah ini. Dia meninggal tahun 1954. Kakek saya dulu usaha berniaga beli kasur kapuk, tokonya ada di lokasi yang sekarang jadi Segitiga Senen.

Dia juga punya banyak kos-kosan, salah satunya dalam Jalan Kramat Raya 106. Sebelum meninggal, rumah itu diwariskan, dibagi ke anak-anaknya, ” papar Yanti Silman.

Dalam museum, tidak ada satu pun foto Sie Kong Lian dengan terpasang. Pihak museum berdalih, semasa ini kehilangan jejak Sie Kong Lian dan keluarganya. Beberapa data dan foto-foto yang selama itu beredar di internet pun tidak akurat.

“Beberapa foto yang sungguh saat itu banyak beredar di internet, itu informasinya cukup menyesatkan. Kenapa? Karena memang yang dipublikasikan itu bukan Sie Kong Minat. Parahnya malah, foto yang dipublikasikan itu adalah foto pengusaha lupa satu bank kenamaan, yaitu Liem Sioe Liong, ” papar Eko.

Kelalaian fatal di internet itulah, yang akhirnya membuat keturunan Sie Kong Lian mulai bergerak, 2018 berarakan. Keluarga mulai mengumpulkan bukti, serta akhirnya menemukan berkas asli untuk ditunjukkan kepada pihak museum, bahwa mereka adalah keturunan Sie Kong Lian.

“Jadi kita coba bongkar, di Jalan Senen Raya 40, rumah Sie Kong Lian yang dulu. Ada satu kotak penyimpanan.

“Ternyata masih ada, kebetulan akta waris. Di dalam akta waris itu, menyatakan bahwa Kramat Besar 106, alias Museum Sumpah Pemuda ini memang diwariskan kepada 3 anak Sie Kong Lian tersebut, ” jelas cicit Sie Kong Lian, Christian Silman.

Pihak museum menyatakan, pada Badan Pertanahan Nasional atau BPN, sertifikat bangunan Museum Sumpah Muda masih atas nama Sie Hok Liang atau Dr Yuliar Silman, salah satu anak dan ahli pengampu dari Sie Kong Lian.

Yanti Silman adalah anak dari Sie Hok Liang atau Dr Yuliar Silman, yang punya hak waris atas bangunan museum itu.

“Yang belakang, kita tahu dari ayah, Sie Kong Lian berpesan bahwa panti itu jangan dijual. Itu sekadar. Jadi ayah kita berpesan ke kita, itu rumah (museum) kita hibahkan ke negara, ” kata cucu Sie Kong Lian, Yanti Silman.

“Kita ingin ada satu wadah atau ruangan, di mana ada foto kakek saya yang dipajang. Ini sebenarnya untuk sejarah. Biarpun saya lahir sebagai etnis Tionghoa, tapi saya tetap orang Nusantara. Supaya dikenang lah, ” tambahnya.

Karakter etnis Tionghoa dalam Sumpah Pemdua sejatinya tidak berhenti pada Sie Kong Lian, sang pemilik pondokan.

Sejarah mencatat terdapat empat muda peranakan Tionghoa yang menghadiri Kongres Pemuda kedua. Mereka adalah Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, serta Tjio Djin Kwie.

Di luar Kongres Pemuda II, surat informasi berbahasa Melayu-Tionghoa, Sin Po , yang pertama kali memuat teks dan notasi lagak Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman pada 10 November 1928.