Categories
Data

Pemerkosa di Bangladesh diancam hukuman stagnan setelah terjadi peningkatan serangan erotis terhadap perempuan dan gadis, tiga kasus per hari

12 Oktober 2020, 19: 42 WIB Sumber gambar, Reuters Bangladesh menerapkan hukuman mati bagi pemerkosa setelah terjadi gelombang protes menentang serbuan seksual terhadap perempuan menentang peningkatan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan.

Bangladesh menerapkan hukuman mati bagi pemerkosa setelah terjadi gelombang protes mengarah serangan seksual terhadap perempuan mengarah peningkatan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan.

Keputusan ini diambil dalam rapat kabinet dalam Senin (12/10) yang dipimpin tepat oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina.

Menteri Hukum Anisul Huq mengucapkan berdasarkan keputusan itu maka balasan maksimum bagi pemerkosa adalah hukuman mati, bukan lagi hukuman penjara seumur hidup sebagaimana yang aci sekarang.

Perubahan ini, lanjutnya, akan dituangkan dalam bentuk peraturan pemerintah, timah paling cepat untuk mengubah balasan kasus pemerkosaan di tengah unjuk rasa nasional menentang peningkatan pukulan seksual dan pemerkosaan terhadap perempuan dan tuntutan agar pihak berwenang bertindak tegas, termasuk mengubah balasan dari hukuman penjara seumur tumbuh menjadi hukuman mati.

“Akta Pencegahan Penindasan Anak-anak dan Perempuan, yang didalamnya berisi hukuman penjara bagi pemerkosa diubah hari ini menjadi hukuman mati, ” kata Gajah Hukum Anisul Huq kepada BBC, Senin (12/10).

Sekarang hukum dalam kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak sudah diperbarui dan hukuman tewas dalam kasus pemerkosaan sudah dimasukkan, ” tambahnya.

Tiga kasus per hari dan k asus perempuan ditelanjangi

Hug menyungguhkan keputusan pemerintah ini antara asing didorong oleh gelombang protes nasional itu.

Kemarahan terbaru timbul setelah berlaku serangan massal yang keji terhadap seorang perempuan di Noakhali, Bangladesh selatan.

Peristiwa ini baru diketahui publik pekan lalu ketika bersirkulasi rekaman serangan di media sosial.

Kelompok dengan membantu korban pemerkosaan mengatakan kepolisian Bangladesh menerima sekitar 5. 400 laporan pemerkosaan tahun 2019, tetapi jumlah kasus yang sampai di dalam tahap putusan bersalah sangat rendah.

Untuk tahun ini, kata mereka, rata-rata terjadi tiga kasus pemerkosaan per hari. Para aktivis mengutarakan banyak kasus lain tidak sampai dilaporkan ke pihak berwenang.

“Bangladesh mengalami kenaikan kasus pemerkosaan selama bulan-bulan terakhir dan video viral yang menunjukkan seorang perempuan ditelanjangi dan kemudian disiksa secara brutal oleh sekelompok anak muda menyulut nafsu pekan lalu, ” lapor kuli BBC di Dhaka, Waliur Belas kasih.

Kepolisian telah menangkap sejumlah orang. Salah satu di antaranya adalah seorang laki-laki dengan diduga memperkosa perempuan berusia 37 tahun itu dengan todongan senjata.

Pemerintah dituduh gagal mengatasi kekerasan seksual dan PBB telah meminta Bangladesh untuk mengkaji ulang penanganan kasus-kasus pemerkosaan.

Menurut Menteri Hukum Anisul Huq, pemerintah akan mengeluarkan peraturan perdana tentang perubahan hukuman bagi pemerkosa pada Selasa besok (13/10.