Categories
Data

Muslim Uighur: Amerika Serikat blokir beberapa ekspor China produksi dari Xinjiang karena dugaan pelanggaran HAM, China sebut AS ‘bully’

Diperbarui 6 jam dengan lalu Sumber gambar, Getty Images China menuduh Amerika Serikat menentang peraturan perdagangan internasional setelah negeri itu memblokir sebagian ekspor China yang berasal dari wilayah Xinjiang dengan alasan diduga terjadi pengingkaran hak asasi manusia terutama dengan dialami oleh kelompok minoritas Muslim Uighur.

China menuduh Amerika Serikat melanggar sistem perdagangan internasional setelah negara tersebut memblokir sebagian ekspor China dengan berasal dari wilayah Xinjiang secara alasan diduga terjadi pelanggaran sah asasi manusia terutama yang dialami oleh kelompok minoritas Muslim Uighur.

Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menegasikan tuduhan itu dan mengatakan bergelora atas langkah Amerika Serikat (AS).

“Amerika Serikat menggunakan apa yang disebut masalah tenaga kerja menekan sebagai dalih untuk menerapkan metode pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan China, melanggar peraturan perdagangan internasional dan pabrik global, mengganggu jaringan industri ijmal, rantai suplai dan rantai ukuran.

“Ini adalah terang-terangan perilaku bullying. China menolak tegas itu, ” sebutan Wang Wenbin dalam keterangan pers di Beijing.

Pernyataan itu dikeluarkan sesudah Amerika Serikat memblokir beberapa jenis barang dari wilayah Xinjiang yang diekspor China.

AS mengatakan “kerja paksa” digunakan untuk memproduksi barang-barang, termasuk di pusat “pelatihan” dengan oleh AS disebut “kamp konsentrasi”.

China selalu membantah tuduhan tersebut.

Larangan ekspor dari Xinjiang tersebut meliputi garmen, kapas, komponen komputer dan produk-produk rambut dari empat perusahaan dan satu pabrik pada Xinjiang dan juga Provinsi Anhui.

“Pelanggaran hak asasi manusia luar biasa itu memerlukan tanggapan luar pelik, ” kata Kenneth Cuccinelli, pengelola tugas wakil menteri keamanan di dalam negeri AS.

“Ini adalah perbudakan modern, ” tambahnya.

Sementara itu, seorang pejabat Badan Kepabeanan dan Pelestarian Perbatasan AS, Mark A. Morgan mengatakan larangan yang berlaku mulai Senin (14/09) “mengirim pesan terang kepada masyarakat internasional bahwa saya tidak akan membiarkan praktik suram, tak manusiawi, dan eksploitatif lantaran kerja paksa di jaringan suplai AS”.

“Pemerintahan Trump tidak akan tinggal diam dan membiarkan perusahaan-perusahaan asing memaksa pekerja rentan melakukan kerja paksa sementara merugikan usaha Amerika yang menghormati hak dasar manusia dan aturan main, ” jelas Morgan.

‘Kerja paksa’ dalam Xinjiang

Larangan barang masuk ke AS dari Xinjiang merupakan kelakuan terbaru yang ditempuh Presiden Trump untuk menekan China terkait dengan kondisi di wilayah itu.

Negeri China diyakini menahan lebih lantaran satu juga warga etnik Uighur selama tahun-tahun terakhir dengan bukti risiko keamanan. Mereka dimasukkan dengan paksa ke kamp-kamp konsentrasi.

Namun China mengisbatkan tidak ada kamp-kamp konsentrasi pada Xinjiang, melainkan balai-balai pelatihan bagi warga Muslim Uighur agar mereka “mengikuti pendidikan vokasi”.

Ribuan anak dipisahkan dari orang tua mereka & berdasarkan penelitian baru-baru ini, hawa dipaksa menjalani prosedur agar tak mempunyai anak.

Larangan eskpor sejak Xinjiang ke AS tidak sampai mencakup larangan dari seluruh wilayah Xinjiang yang sebelumnya sempat dipertimbangkan.

Namun opsi itu masih dieksplorasi.

“Karena situasi unik, memberlakukannya terhadap seluruh wilayah, bukan terhadap perusahaan atau fasilitas, kita masih mempertimbangkan aspek hukumnya, ” jelas Kenneth Cuccinelli.

“Kami ingin memastikan begitu awak maju dengan pilihan tersebut, itu dapat dipertahankan. ”

China menghasilkan sekitar 20% dari produksi kapas di semesta dunia. Sebagian besar kapas China dihasilkan di Xinjiang. Wilayah tersebut juga memproduksi petrokimia dan barang-barang lain yang diserap oleh bengkel China.

Bulan ini, perusahaan hiburan Amerika Serikat, Disney, dikritik karena melakukan syuting film baru Mulan di Xinjiang.