Categories
Data

Perang Afghanistan: Perundingan damai ‘bersejarah’ secara Taliban dimulai, apa yang bisa diharapkan?

Diperbarui 12 September 2020, 14: 44 WIB Sumber gambar, Reuters Perundingan damai baru antara pemerintah Afghanistan dan Taliban dimulai di Qatar pada hari Sabtu (12/09) setelah tertunda semasa berbulan-bulan.

Perundingan tenang pertama antara pemerintah Afghanistan dan Taliban dimulai di Qatar dalam hari Sabtu (12/09) setelah tertunda selama berbulan-bulan.

Dalam pidato pembukanya, kepala delegasi Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan ada kesempatan untuk menyudahi hal yang ia sebut “penderitaan tak berkesudahan”.

Pemimpin politik Taliban, Mullah Baradar, berkata ia ingin Afghanistan menjadi negara independen dengan sistem Islam.

Perundingan itu seharusnya dimulai menyusul kesepakatan keamanan AS-Taliban pada Februari.

Tetapi perdebatan soal pertukaran tawanan yang kontroversial memperlambat tahapan berikutnya, sejenis pula kekerasan di Afghanistan, wadah perang yang telah berlangsung selama empat dekade menemui jalan mati.

GANDAR telah memainkan peran penting jadi perantara negosiasi. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyebut perundingan tersebut “peristiwa penting”, dan mengatakan kepada kedua pihak bahwa seluruh negeri mengharapkan kesuksesan mereka.

Delegasi para atasan Afganistan berangkat dari Kabul ke Doha pada Jumat – 11 September, tanggal terjadinya serangan membekukan terhadap AS 19 tahun berantakan, yang berujung pada akhir kekuasaan Taliban.

Pada hari Kamis, Taliban mengonfirmasi bahwa mereka akan hadir, sesudah enam tawanan terakhir dilepaskan.

Apa yang bisa diharapkan dari perundingan ini?

Ini adalah pertemuan langsung pertama jarang Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan. Sebelumnya, kelompok militan itu selalu menolak menemui pemerintah, menyebut mereka tidak berdaya dan “boneka” Amerika.

Ke-2 kubu bertujuan mencapai rekonsiliasi kebijakan dan mengakhiri kekerasan yang telah berlangsung puluhan tahun, yang dimulai dengan invasi Uni Soviet di 1979.

Perundingan ini seharusnya dimulai di dalam Maret tapi ditunda berkali-kali karena perselisihan soal pertukaran tawanan dengan disepakati dalam perjanjian AS-Taliban di bulan Februari, serta kekerasan dalam Afghanistan.

Kesepakatan AS-Taliban yang terpisah tetapi saling terkait menetapkan jadwal buat penarikan pasukan asing, dengan bayaran berupa jaminan kontra-terorisme.

Kesepakatan tersebut perlu satu tahun untuk difinalisasi, serta perundingan pemerintah-Taliban diperkirakan akan menjadi lebih kompleks. Banyak yang kacau bahwa kemajuan yang telah dicapai dalam hal hak-hak perempuan mampu dikorbankan dalam prosesnya.

Perundingan ini pula menjadi tantangan bagi Taliban, dengan harus mengajukan visi politik yang nyata bagi Afghanistan. Sejauh tersebut mereka selalu samar-samar, menyatakan itu mendambakan pemerintahan yang “Islami” akan tetapi juga “Inklusif”.

Perundingan ini mungkin hendak menunjukkan bukti tentang bagaimana gerombolan militan tersebut telah berubah sejak 1990-an, ketika mereka menggunakan interpretasi yang keras dari hukum Syariah.

Apa isi kesepakatan AS-Taliban?

AS dan gabungan mereka di NATO setuju buat menarik semua pasukan dalam masa 14 bulan, sementara Taliban berkomitmen untuk tidak membiarkan al-Qaeda ataupun kelompok ekstremis lainnya untuk jalan di wilayah yang mereka kuasai.

GANDAR juga setuju untuk mencabut sanksi terhadap Taliban dan bekerja cocok dengan PBB untuk mencabut sanksi-sanksi lainnya terhadap kelompok itu, dan mengurangi jumlah pasukannya di negeri itu dari sekitar 12. 000 menjadi 8. 600 dan mengucup beberapa pangkalan.

Pasukan yang dipimpin AS telah hadir di Afghanistan selama hampir dua dekade, usai melancarkan serangan udara untuk menggulingkan Taliban pada 2001, menyusul serangan membekukan pada 11 September yang dilakukan al-Qaeda di New York. Masa itu Taliban melindungi pemimpin al-Qaeda Osama Bin Laden dan menolak untuk menyerahkannya.

Pemerintah Afghanistan tidak renggut bagian dalam kesepakatan Februari, tetapi diharapkan akan memulai perundingan nyaman dengan Taliban pada bulan Maret.

Suara tersebut juga meliputi pertukaran sekitar 5. 000 tahanan Taliban dan 1. 000 personel keamanan Afghanistan yang ditawan untuk diselesaikan pra perundingan Maret dimulai.

Apa yang terjadi setelahnya?

Namun juru runding pemerintah Afghanistan dan Taliban tidak sepakat soal jumlah benduan yang dibebaskan dan siapa sekadar mereka. Kekerasan yang terus terjadi juga membuatnya terus tertunda.

Beberapa karakter yang Taliban minta untuk dibebaskan adalah komandan-komandan yang diyakini berperan dalam serangan besar.

“Kami tidak bisa membebaskan para pembunuh rakyat awak, ” kata seorang negosiator negeri saat itu.

Menurut sebuah laporan sebab Washington Post bulan lalu, 3 warga Afghanistan yang dituduh terlibat dalam kematian tentara AS pula menjadi sorotan.

Progresnya lambat, tetapi pada bulan Agustus, pemerintah Afghanistan berangkat membebaskan 400 tahanan terakhir Taliban, setelah langkah tersebut disetujui oleh majelis besar, atau loya jirga para tetua.

Klan 400 orang itu tidak tepat dibebaskan seluruhnya, setelah Prancis serta Australia menyatakan keberatan pada penghentian enam tahanan yang dituduh mengabulkan serangan fatal terhadap warga negeri mereka, termasuk pekerja kemanusiaan.

Pembebasan & pemindahan mereka ke Doha pada malam sebelum pembicaraan menghilangkan sekatan terakhir.

Perang terpanjang AS

Telah berlangsung semasa 19 tahun, konflik di Afghanistan – dengan nama sandi Operation Enduring Freedom dan kemudian Operation Freedom’s Sentinel – adalah dengan terpanjang dalam sejarah AS.

Pada awal operasi tersebut di tahun 2001, AS dibantu oleh koalisi internasional, dan secara cepat meruntuhkan kekuasaan Taliban. Namun kelompok militan itu berubah menjelma pasukan pemberontak yang melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan koalisi & militer Afghanistan, serta pejabat pemerintah Afghanistan.

Koalisi internasional mengakhiri misi tempurnya pada tahun 2014. Total korban tewas dari koalisi pada saat itu hampir mencapai 3. 500. Lebih dari 2. 400 awak militer AS telah tewas. Inggris kehilangan lebih dari 450 tentaranya.

Institut Watson di Universitas Brown di dalam November 2019 memperkirakan lebih daripada 43. 000 warga sipil telah tewas, dengan 64. 000 personel keamanan Afghanistan dan 42. 000 pejuang anti-pemerintah tewas. Angka sebenarnya tidak akan pernah diketahui.

Setelah 2014, AS melanjutkan operasi tempurnya tunggal dalam skala kecil, termasuk serbuan udara. Sementara Taliban terus memperoleh momentum dan sekarang mengendalikan lebih banyak wilayah dibandingkan ketika itu berkuasa tahun 2001.