Categories
Data

Covid-19 Indonesia tembus 111.000 kasus pada lima bulan pandemi, ‘penambahan tertinggi di DKI Jakarta dan Jatim’

Lima bulan sejak dikonfirmasi pemerintah pada 2 Maret, kasus konfirmasi positif virus corona di Indonesia lebih dari 111.000 orang pada Minggu (02/08) menurut data Kementerian Kesehatan dan BNPB.

Ini merupakan jumlah keempat terbanyak di Asia, bila merujuk data Johns Hopkins University. Peringkat pertama adalah India dengan lebih dari 1,75 juta kasus, kedua Pakistan sekitar 278.000 kasus, dan ketiga Bangladesh di kisaran 239.000 kasus.

Sejak dua pekan lalu, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia melampaui China.

Dilaporkan penambahan pada hari Minggu (02/08) di Indonesia didapatkan dari hasil pemeriksaan terhadap 20.032 spesimen dalam 24 jam terakhir.

Menurut pemerintah, kasus baru pasien positif Covid-19 tersebar di 34 provinsi.

Dari data tersebut, tercatat lima provinsi dengan penambahan kasus baru tertinggi, dan DKI Jakarta (377 kasus baru) dan Jawa Timur (180 kasus baru).

Disusul Sumatera Utara (174 kasus baru), Gorontalo (127 kasus baru), dan Sulawesi Selatan (95 kasus baru).

Sementara, penularan Covid-19 secara keseluruhan hingga saat ini terjadi di 478 kabupaten/kota yang berada di 34 provinsi. Jumlah kabupaten/kota ini terus bertambah dari waktu ke waktu.

Berapa yang pasien yang meninggal?

Adapun pasien yang meninggal dunia bertambah 43, sehingga total meninggal dunia akibat Covid-19 menjadi 5.236 orang.

Pada Minggu (02/08), dilaporkan pula ada 1.056 pasien sembuh, sehingga total kasus sembuh ada sebanyak 68.975 pasien.

Dilaporkan kasus sembuh terbanyak tercatat ada di Jawa Timur, dengan total sembuh sebanyak 191 orang, sehingga secara akumulasi pasien sembuh di Jatim mencapai 15.068 orang.

Berikut kurva penularan virus corona di Indonesia.

Untuk mengendalikan Covid-19, Presiden Joko Widodo minta agar digencarkan 3T yakni tracing, testing, treatment. Presiden menargetkan 30.000 tes per hari.

Pada Minggu (02/08) Kementerian Kesehatan merilis Indonesia melakukan pemeriksaan 20.032 spesimen dalam 24 jam terakhir.

Kasus Indonesia lampaui China

Pada Minggu (19/07) total kasus positif Covid-19 terdata 86.521 kasus, melampaui China.

Total kasus positif Covid-19 di China pada hari yang sama sebanyak 85.314 menurut data Johns Hopkins University.

Berikut ini adalah data penularan virus corona di berbagai negara. Anda dapat scroll tabel untuk melihat data negara yang Anda ingin ketahui.

Scroll tabel untuk data lebih lanjut

Silakan perbaharui browser Anda untuk pengalaman lengkap

Informasi ini diperbaharui dari waktu ke waktu namun tidak merefleksikan kondisi terkini dari masing-masing negara.

** Data untuk kasus baru rata-rata diperbaharui tiga hari sekali. Karena banyaknya revisi dari angka kasus, rata-rata kasus tidak dapat dihitung untuk tanggal ini.

Sumber: Johns Hopkins University (Baltimore, Amerika Serikat), Kementerian Kesehatan

Data terbaru 2 Agustus 2020 17.35 WIB

Kapan terakhir kali terjadi angka kenaikan positif tertinggi?

Rekor kasus harian tertinggi yakni 2.657 kasus pada Kamis (09/07). Saat itu dilaporkan ada klaster baru di sekolah kedinasan, Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat, Secapa AD di Bandung, Jawa Barat. Lebih dari 1.000 orang peserta didik dan pelatih tertular Covid-19.

Pemerintah mengklaim ‘kendali klaster sudah dilakukan dengan baik. Pergerakan orang ke dalam maupun ke luar kompleks Secapa AD dilarang dan diawasi dengan ketat.

Hal ini sempat mendapat sorotan Presiden Joko Widodo.

“Sebaran Covid di seluruh tanah air ini sangat tergantung sekali pada bagaimana daerah mengendalikannya. Dan juga perlu saya ingatkan, ini saya kira sudah lampu merah lagi, hari ini secara nasional kasus positif ini tinggi sekali hari ini, 2.657,” kata Jokowi saat meninjau posko Penanganan Covid-19 Kalteng di Palangka Raya, Kamis (09/07)

  • Kamis (09/07): sebanyak 2.657 kasus baru
  • Kamis (02/07): sebanyak 1.624 kasus baru
  • Rabu (01/07): sebanyak 1.385 kasus baru
  • Sabtu (27/06): sebanyak 1.385 kasus baru
  • Kamis (18/06): sebanyak 1.331 kasus baru
  • Rabu (10/06): sebanyak 1.241 kasus baru
  • Selasa (09/06): sebanyak 1.043 kasus baru
  • Sabtu (06/06), sebanyak 993 kasus baru
  • Sabtu (23/05), sebanyak 949 kasus baru
  • Kamis (21/05), sebanyak 973 kasus baru
  • Rabu (13/05), sebanyak 689 kasus baru
  • Sabtu (09/05), sebanyak 533 kasus baru
  • Selasa (05/05), sebanyak 484 kasus baru

Penambahan kasus positif di Indonesia mulai melaju cepat sejak 6 April yakni sekitar 200-300 orang per hari, lalu bergerak naik 300-400an kasus baru per hari. Dan pada bulan Juni, bergerak fluktuatif antara 400-an kasus hingga lebih dari 1.000 kasus baru per hari.

Sejak resmi dikonfirmasi oleh pemerintah pada awal Maret, kasus positif virus corona di Indonesia dalam waktu hampir lima bulan telah melampaui 106.000 orang.

Berikut gambaran kasus harian virus corona di seluruh provinsi Indonesia. Anda dapat menggeser peta dan tabel untuk mengetahui data provinsi tempat tinggal Anda.

Provinsi

Kasus

Sembuh

Meninggal

Jawa Timur

19.450

(+357)

11.125

(+665)

1.525

(+29)

Jakarta

18.068

(+447)

11.283

(+144)

751

(+0)

Jawa Tengah

8.021

(+295)

3.850

(+130)

504

(+60)

Sulawesi Selatan

8.527

(+120)

5.344

(+310)

287

(+0)

Kalimantan Selatan

5.332

(+116)

2.270

(+115)

263

(+1)

Jawa Barat

5.824

(+83)

2.452

(+32)

206

(+3)

Sumatra Utara

3.263

(+100)

846

(+21)

169

(+9)

Sumatra Selatan

3.165

(+16)

1.526

(+54)

144

(+0)

Sulawesi Utara

2.120

(+43)

923

(+112)

119

(+7)

Nusa Tenggara Barat

1.822

(+33)

1.144

(+13)

98

(+0)

Banten

1.707

(+10)

1.232

(+4)

85

(+0)

Kalimantan Tengah

1.475

(+27)

966

(+78)

81

(+0)

Bali

2.996

(+62)

2.252

(+74)

48

(+2)

Maluku Utara

1.345

(+9)

241

(+37)

41

(+0)

Sumatra Barat

849

(+3)

711

(+3)

33

(+0)

Papua

2.724

(+46)

1.257

(+4)

30

(+0)

Gorontalo

620

(+4)

322

(+11)

30

(+0)

Kalimantan Timur

1.034

(+40)

672

(+52)

25

(+3)

Maluku

1.010

(+12)

629

(+7)

20

(+0)

Kepulauan Riau

349

(+0)

306

(+5)

16

(+0)

Bengkulu

195

(+10)

116

(+5)

16

(+0)

Yogyakarta

496

(+10)

335

(+4)

15

(+1)

Sulawesi Tenggara

712

(+27)

390

(+4)

12

(+1)

Lampung

246

(+9)

182

(+3)

12

(+0)

Riau

350

(+2)

233

(+1)

11

(+0)

Aceh

158

(+7)

77

(+2)

10

(+1)

Sulawesi Tengah

200

(+4)

184

(+3)

6

(+0)

Papua Barat

386

(+10)

230

(+14)

5

(+0)

Kalimantan Barat

359

(+0)

355

(+0)

4

(+0)

Sulawesi Barat

171

(+2)

113

(+0)

3

(+0)

Kalimantan Utara

218

(+1)

209

(+0)

2

(+0)

Kepulauan Bangka Belitung

182

(+1)

169

(+0)

2

(+0)

Jambi

136

(+0)

110

(+2)

2

(+0)

Nusa Tenggara Timur

137

(+0)

110

(+0)

1

(+0)

Dalam verifikasi

10

(+0)

0

(+0)

0

(+0)


Sumber: Kementerian Kesehatan.

Covid-19 di Jakarta bertambah terus di masa transisi

Jakarta dalam masa perpanjangan transisi PSBB bulan Juli, masih terdata di tiga besar provinsi dengan tambahan kasus harian terbanyak, antara 100-400an kasus baru per hari.

Pada Selasa (28/07), terdata kementerian kesehatan seluruh wilayah Jakarta dalam status merah dengan kasus tinggi. Kepulauan Seribu yang sebelumnya berstatus berisiko rendah kini berstatus sedang.

Tercatat pula pada hari Rabu (29/07) rekor tambahan kasus harian di Jakarta yakni 577 kasus baru. Sebelumnya pada Senin (27/07) Jakarta juga mencatatkan tambahan kasus baru cukup tinggi sebanyak 467 kasus baru dan Kamis (23/07) dengan 470 kasus baru.

Pada masa sebelum transisi, penambahan kasus positif di Jakarta sempat bergerak di kisaran 70-100an kasus per hari.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan kembali memperpanjang masa transisi PSBB untuk ketigakalinya hingga 13 Agustus, karena ‘belum ada perbaikan’.

Saat memperpanjang masa transisi PSBB untuk kedua kalinya pada pertengahan Juli, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan masih ada ‘ketidakdisiplinan masyarakat dalam mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak’. Jakarta ‘awasi ketat pasar tradisional dan KRL’ dalam masa perpanjangan transisi PSBB ini.

Awalnya Anies menetapkan bulan Juni sebagai masa transisi dengan pelonggaran kegiatan secara bertahap di berbagai sektor. Namun masa transisi ini ‘bisa dihentikan setiap saat’ ketika ada indikator yang buruk.

Salah satu indikator yang biasa dipantau adalah angka reproduksi R yang ditargetkan di bawah 1. Target tersebut bermakna satu orang positif berpotensi tidak akan menularkan pada orang lainnya.

Perkantoran dan rapat jadi sumber penularan

Pada Senin (20/07), juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 saat itu, Achmad Yurianto, menegaskan sumber penularan ditemukan berasal dari perkantoran, terutama aktivitas rapat atau pertemuan di ruang rapat di perkantoran.

“Aktivitas ini kalau toh harus dilakukan, lakukan di ruang dengan sirkulasi udara yang baik di pagi hari. Buka semua jendela, matikan sementara AC. Batasi kapasitas ruang, bila perlu sebagian bisa menggunakan metode daring. Batasi pembicara. Hindari sajian makan dan minum yang dapat membuat peserta rapat membuka masker,” kata Yurianto dalam jumpa pers daring.

Sebagai langkah penanggulangan penularan virus corona yang terus bertambah di Indonesia, pemerintah juga meminta perkantoran memberlakukan jam masuk dua gelombang. Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, pada hari Minggu (19/07).

Yuri menjelaskan, gelombang pertama masuk kantor dilaksanakan pada pagi hari pukul 07:00-07:30, dan gelombang kedua lebih siang pukul 10:00-10:30.

“Ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa ketersediaan kapasitas sarana transportasi massal bisa memberikan ruang untuk physical distancing, tidak terlalu ketat, bisa dilaksanakan dengan baik,” ujarnya dalam konferensi pers perkembangan penanganan Covid-19.Ia juga mengingatkan bahwa sepanjang perjalanan di transportasi massal masyarakat harus menggunakan masker dan berusaha tidak membuat percakapan sama sekali, serta tidak makan dan minum.

Banyak perusahaan kembali meminta pegawainya bekerja dari kantor setelah beberapa daerah melonggarkan aturan pembatasan sosial.

Achmad Yurianto meminta perusahaan memastikan bahwa hanya pegawai sehat yang bekerja di kantor, serta membatasi waktu rapat hingga 30 menit.

Jawa Timur, provinsi dengan kasus terbanyak

Tambahan kasus baru positif virus corona di Jawa Timur juga masih jadi sorotan.

Dari sebelumnya 200-300an kasus baru, pada Minggu (05/07) ada 552 kasus, Kamis (09/07) ada 517 kasus baru, dan Minggu (12/07) ada 518 kasus baru.

Situasi ini terjadi di tengah tenggat waktu dua pekan sejak 29 Juni hingga 12 Juli yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo untuk Jawa Timur menanggulangi Covid-19.

Pada 2 Agustus, Jawa Timur masih catatkan tambahan kasus baru sebanyak 180 orang dengan total kasus positif terbanyak di Indonesia yakni 22.504 orang.

Sebagai catatan, Selasa (09/06), Kota Surabaya, Kab. Gresik dan Kab. Sidoarjo resmi menghentikan PSBB dan menyatakan hanya menerapkan protokol Covid-19 secara ketat. Setelah kenaikan kasus yang terus terjadi, kini muncul wacana menggelar PSBB ulang di kota Surabaya.

Bahaya kalau merasa normal-normal saja

Di tengah terus bertambahnya kasus, Presiden Joko Widodo pada 29 Juni mengatakan, “Jangan sampai kita masih merasa normal-normal saja, berbahaya sekali.”

Dalam pertemuan dengan Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur, Presiden Joko Widodo memperingatkan akan dua ancaman krisis selama pandemi, yakni krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

International Monetary Fund (IMF) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi semua negara akan anjlok pada 2020, dengan Amerika Serikat diperkirakan tumbuh -8%, Jepang -5,8%, Prancis -12,5%, dan Jerman -7,5%.

Kondisi pandemi, lanjut Jokowi, akan mempengaruhi permintaan luar negeri sehingga pasokan dan produksi sudah pasti akan terganggu.

“Artinya demand, supply dan produksi rusak dan gagal. Ini yang harus kita ketahui bersama dalam proses mengendalikan Covid-19, yang merupakan urusan kesehatan, tapi kita juga ada masalah lain urusan ekonomi,” kata Presiden.

Untuk itu, dia mengingatkan semua pihak agar memiliki “perasaan yang sama” bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi krisis kesehatan, sekaligus krisis ekonomi.

“Jangan sampai kita masih merasa normal-normal saja, berbahaya sekali,” tegasnya.

“Jangan sampai masyarakat yang memiiki perasaan yang masih normal-normal saja, sehingga ke mana-mana tidak pakai masker, lupa cuci tangan, masih berkerumun di dalam kerumunan yang tidak perlu, ini yang harus kita ingatkan,” ujar Jokowi.

Awal keputusan kebijakan ‘new normal’

Seiring jumlah kasus terus bertambah, pemerintah meminta masyarakat ‘beradaptasi dan hidup berdampingan dengan virus corona’ dengan protokol new normal atau kenormalan baru.

Berawal dari rapat kabinet Selasa 18 Mei, skenario tatanan kehidupan baru new normal terus dimatangkan pemerintah. Presiden Jokowi, pada 26 Mei, meninjau persiapan penerapan new normal di stasiun MRT, Jakarta dan mal di Bekasi, Jawa Barat. TNI dan Polri diminta mengawal transisi menuju new normal.

Ada 340.000 orang personal TNI-Polri yang diturunkan untuk ‘berada di setiap kerumunan’. Mereka ditugaskan memastikan protokol Covid-19 dipatuhi masyarakat.

‘New normal’ salat Jumat

Setelah mengevaluasi pelonggaran penyelenggaraan salat Jumat berjamaah dalam dua pekan berturut-turut, Kementerian Agama pada Kamis (18/06) menyatakan belum akan mengeluarkan kebijakan baru.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan ‘hasil evaluasi sementara menunjukkan tren yang membaik’ dalam pelaksanaan salat Jumat.

Pelaksanaannya sesuai protokol kesehatan dan Surat Edaran Menteri Agama No. 15 Tahun 2020, walaupun masih ada beberapa tempat yang tidak sepenuhnya sesuai protokol Covid-19.

Sebelumnya dalam jumpa pers di media center Gugus Tugas pada Kamis (11/06), ia mengatakan “Banyak laporan, pada pekan pertama, terutama yang paling kelihatan saf yang rapat, tapi secara umum bagus, menuruti protokol yang sudah ditetapkan.”

Pada 30 Mei, Menteri Agama Fachrul Razi menerbitkan surat edaran tentang panduan penyelenggaraan kegiatan keagamaan di rumah ibadah.

Disebutkan surat edaran itu sebagai panduan “selama masa kenormalan baru atau new normal“.Menurut Fahcrul, panduan ini mengatur kegiatan keagamaan di rumah ibadah, berdasarkan “situasi riil Covid-19 di lingkungan rumah ibadah tersebut”, dan “bukan hanya berdasarkan status zona yang berlaku di daerah”.

“Meskipun daerah berstatus Zona Kuning, namun bila di lingkungan rumah ibadah tersebut terdapat kasus penularan Covid-19, maka rumah ibadah dimaksud tidak dibenarkan menyelenggarakan ibadah berjamaah,” katanya.

WHO: Pandemi ini memburuk

Setelah menembus angka 3 juta penderita pada 28 April, jumlah kasus secara global terus bertambah hingga kini total lebih dari 17,8 juta orang pasien berdasar data Johns Hopkins University, Minggu (03/08).

Dari negara Asia, India tercatat menjadi negara ketiga di dunia dengan kasus Covid-19 terbanyak.

Sementara Indonesia tertinggi keempat di Asia.

Berikut ini gambaran perkembangan kasus Covid-19 di dunia termasuk Indonesia. Anda dapat melihat data per wilayah dengan meng-klik tanda panah pada peta.

Kasus positif di seluruh dunia

Tampilkan

Group 4

Upgrade browser Anda untuk melihat data interaktif

Lingkaran menunjukkan jumlah kasus positif virus corona per negara

Sumber: Johns Hopkins University (Baltimore, Amerika Serikat), Kementerian Kesehatan

Data diperbaharui pada 2 Agustus 2020 17.35 WIB

Meski terdapat kemajuan dalam memerangi virus tersebut di Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (09/06) menyatakan pandemi ini “memburuk” di seluruh dunia.

“Pandemi ini telah berlangsung selama lebih dari enam bulan, ini bukan saatnya bagi negara manapun untuk bersantai,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Total angka kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia pada saat WHO memberikan pernyataan ini telah lebih dari 400.000 orang.

Bermula di China, virus corona kemudian berjangkit di 200 lebih negara. Dalam waktu sekitar empat bulan, Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Spanyol, Italia, Inggris, India menjadi negara-negara dengan kasus tertinggi.

Data infografis ini diperbaharui sesuai perkembangan yang terjadi.

Categories
Data

Virus corona: Tingkat kematian di Meksiko tertinggi ketiga di dunia

Meksiko menjadi negara dengan angka kematian tertinggi ketiga karena virus corona, setelah AS dan Brasil.

Negara itu telah mencatat setidaknya 46. 688 kematian selama pandemi, dengan total 424. 637 infeksi.

Sebelumnya, negara dengan jumlah korban terbanyak ketiga adalah Inggris, yang merekam mencatat 46. 204 kematian pada hari Jumat (31/07).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dampak pandemi akan dirasakan “selama berpuluh tarikh mendatang”.

Di Meksiko, pemerintah daerah sebelumnya mengatakan mereka percaya jumlah infeksi sebenarnya mungkin jauh lebih mulia daripada yang dilaporkan.

Presiden Andrés Manuel López Obrador ingin segera melakukan kembali ekonomi negara yang lengai. Pemerintahnya mengumumkan rencana bertahap untuk mencabut aturan-aturan pembatasan pada bulan Mei.

Di Mexico City, ibu kota Meksiko, ratusan ribu pekerja bengkel kembali bekerja pada pertengahan Juni. Beberapa bisnis nonesensial kemudian diizinkan untuk kembali buka pada pokok Juli di kota yang menjadi pusat epidemi di negara tersebut.

Tetapi Obrador dikritik lambat menerapkan lockdown serta terlalu cepat mengangkatnya. Sebagian luhur ekonomi Meksiko berhenti pada 23 Maret tapi beberapa industri dengan dinyatakan sangat penting bagi keberjalanan negara dikecualikan dari pembatasan.

Pada hari Jumat, sepuluh gubernur negara arah mengecam cara pemerintah menangani epidemi dan menuntut pengunduran diri Asisten Sekretaris Kesehatan Hugo López-Gatell berantakan ahli epidemiologi dan penanggung berat penanganan virus corona di Meksiko.

AS telah mencatat sedikitnya 153. 415 kematian dan Brasil 92. 475.

Banyak negara berusaha untuk keluar dari lockdown tapi jumlah kasus mereka menyusun lagi, lapor koresponden BBC pada Jenewa, Imogen Foulkes.

Beberapa negara, sesuai Spanyol dan Inggris, menerapkan balik sebagian pembatasan atau menunda agenda pelonggaran.

Dengan angka kasus yang terus meningkat di seluruh dunia, besar WHO Dr. Tedros Ghebreyesus menyebut pandemi ini sebagai “krisis kesehatan tubuh sekali dalam seabad, yang dampaknya akan dirasakan selama berpuluh-puluh tarikh mendatang”.

“Meskipun pengembangan vaksin terjadi dengan sangat cepat, kita harus melancarkan hidup dengan virus ini, dan kita harus berjuang dengan logistik yang kita miliki, ” katanya pada hari Jumat.