Categories
Data

Virus corona: Tingkat kematian di Meksiko tertinggi ketiga di dunia

1 Agustus 2020, 16: 39 WIB Sumber gambar, Reuters Meksiko menjadi negeri dengan angka kematian tertinggi ketiga karena virus corona, setelah AS dan Brasil. Negara itu telah mencatat sedikitnya 46. 688 moralitas selama pandemi, dengan total 424. 637 infeksi.

Meksiko menjadi negara dengan angka kematian tertinggi ketiga karena virus corona, setelah AS dan Brasil.

Negara itu telah mencatat setidaknya 46. 688 kematian selama pandemi, dengan total 424. 637 infeksi.

Sebelumnya, negara dengan jumlah korban terbanyak ketiga adalah Inggris, yang merekam mencatat 46. 204 kematian pada hari Jumat (31/07).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dampak pandemi akan dirasakan “selama berpuluh tarikh mendatang”.

Di Meksiko, pemerintah daerah sebelumnya mengatakan mereka percaya jumlah infeksi sebenarnya mungkin jauh lebih mulia daripada yang dilaporkan.

Presiden Andrés Manuel López Obrador ingin segera melakukan kembali ekonomi negara yang lengai. Pemerintahnya mengumumkan rencana bertahap untuk mencabut aturan-aturan pembatasan pada bulan Mei.

Di Mexico City, ibu kota Meksiko, ratusan ribu pekerja bengkel kembali bekerja pada pertengahan Juni. Beberapa bisnis nonesensial kemudian diizinkan untuk kembali buka pada pokok Juli di kota yang menjadi pusat epidemi di negara tersebut.

Tetapi Obrador dikritik lambat menerapkan lockdown serta terlalu cepat mengangkatnya. Sebagian luhur ekonomi Meksiko berhenti pada 23 Maret tapi beberapa industri dengan dinyatakan sangat penting bagi keberjalanan negara dikecualikan dari pembatasan.

Pada hari Jumat, sepuluh gubernur negara arah mengecam cara pemerintah menangani epidemi dan menuntut pengunduran diri Asisten Sekretaris Kesehatan Hugo López-Gatell berantakan ahli epidemiologi dan penanggung berat penanganan virus corona di Meksiko.

AS telah mencatat sedikitnya 153. 415 kematian dan Brasil 92. 475.

Banyak negara berusaha untuk keluar dari lockdown tapi jumlah kasus mereka menyusun lagi, lapor koresponden BBC pada Jenewa, Imogen Foulkes.

Beberapa negara, sesuai Spanyol dan Inggris, menerapkan balik sebagian pembatasan atau menunda agenda pelonggaran.

Dengan angka kasus yang terus meningkat di seluruh dunia, besar WHO Dr. Tedros Ghebreyesus menyebut pandemi ini sebagai “krisis kesehatan tubuh sekali dalam seabad, yang dampaknya akan dirasakan selama berpuluh-puluh tarikh mendatang”.

“Meskipun pengembangan vaksin terjadi dengan sangat cepat, kita harus melancarkan hidup dengan virus ini, dan kita harus berjuang dengan logistik yang kita miliki, ” katanya pada hari Jumat.