Categories
Data

Di negara ini, petugas keamanan ‘lebih mematikan’ ketimbang virus corona

4 jam yang lalu Sumber gambar, BBC Di Uganda, minimalnya 12 orang meninggal dunia di tangan petugas keamanan yang menerapkan pembatasan sosial yang ketat guna menahan penyebaran virus corona, padahal virus itu sendiri belum memakan korban jiwa. Wartawan BBC Patience Atuhaire menemui mereka yang terdampak kekerasan tersebut.

Pada Uganda, setidaknya 12 orang meninggal dunia di tangan petugas keamanan yang menerapkan pembatasan sosial yang ketat guna menahan penyebaran virus corona, padahal virus itu sendiri belum memakan korban jiwa. Wartawan BBC Patience Atuhaire menemui mereka yang terdampak kekerasan tersebut.

Joyce Namugalu Mutasiga berbicara sembari memasak kue dadar di atas tungku kayu.

Kata-katanya pendek, diselingi jeda panjang.

“Ia menghindar, dan mereka menembaknya. Sekurangnya mereka bisa minta maaf, dikarenakan hidupnya tak akan kembali. Sekarang aku harus berjuang membesarkan anak-anak sendirian, ” katanya.

Perempuan 65 tahun ini kini pencari nafkah utama untuk tujuh anggota keluarganya.

Dua orang cucunya, tiga dan lima tahun, terlalu muda untuk paham skala persoalan yang menimpa mereka. Keduanya berlarian di halaman sambil menunjuk mobil ayah mereka.

Bulan Juni, 3 minggu sesudah ditembak oleh polisi Uganda, Eric Mutasiga meninggal dunia karena luka yang dideritanya. Momen terakhirnya adalah di meja operasi di Rumah Sakit Mulago, kata ibunya.

Kepala sekolah berusia 30 tahun itu salah satu yang diduga jadi korban meninggal dunia di tangan petugas keamanan yang menegakkan aturan pembatasan saat pandemi.

Yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan ini dipercaya ialah polisi, tentara dan anggota pasukan sipil bernama Local Defence Unit (LDU).

Sejak Maret, mereka bekerjasama menjaga blokade jalan untuk memastikan orang lalu ojek (yang dikenal di Uganda dengan nama boda bodas) tuk patuh pada pembatasan gerak mulai maghrib hingga dini hari.

Masalah datang kepada Eric Mutasiga pada tanggal 13 Mei.

Selain mengepalai sebuah SECURE DIGITAL, ayah tiga anak itu punya sebuah toko kecil di samping rumahnya di Mukono, satu quickly pull dari ibu kota Kampala.

Hari Rabu itu, polisi dan awak LDU menahan orang yang melanggar aturan karena masih bekerja pada atas jam 7 malam.

‘ Anda bukan atasan saya’

Karyawan toko milik Mutasiga baru saja ditahan.

“Saya memohon kepada polisi untuk melepaskan karyawan saya itu. Mereka lalu berdebat sendiri apakah akan melepaskannya, ” kata Mutasiga kepada wartawan.

Lalu orang-orang berkumpul dan suasana memanas.

“Salah seorang polisi berkata yakni saya bukan atasannya. Ia bilang bisa saja menembak saya. ”

“Saat saya berpaling akan pergi, salah satu polisi menembak ke udara. Saya berputar untuk melihat berkaitan yang terjadi, dan saya lihat dia mengarahkan senjata ke saya”.

“Pelurunya menembuk kaki kiri saya lalu saya jatuh. Mereka lalu naik ke atas motor mereka dan pergi”.

Ini disampaikan Mutasiga saat ia dibawa dengan kursi roda ke rumah sakit. Polisi tidak memverifikasi keterangannya.

Keluarga berharap Mutasiga akan pulih seperti sedia kala.

“Kami tinggal di rumah sakit menunggu pembedahan. Namun setiap kali kami tanya, petugas kesehatan bilang mereka tak dapat mengoperasinya, ” kata ibunya.

Mutasiga akhirnya dibawa ke meja operasi tanggal 8 Juni, dan meninggal pada sana.

Sertifikat kematian menyatakan ia meninggal dunia akibat luka tembak di kakinya.

Ibunda Eric Mutasiga, Joyce, berkata: “Banyak yang menyarankan saya ke pengadilan. Tapi polisi tidak mengungkap identitas penembak. Siapa yang diharuskan saya tuntut? ”

M eninggal dunia di pelukan

Farida Nanyonjo sangat marah lantaran adiknya Robert Senyonga, meninggal dunia akibat dipukuli.

Tengah hari tanggal 7 Juli, ia menerima telepon dari atasannya. Katanya, ia harus segera ke kota Jinja karena adiknya, Robert, dipukul berkali-kali dengan gagang pistol dengan seorang yang dipercaya sebagai awak LDU.

Pemukulan itu membuat tengkorak Robert retak.

Farida tiba malam hari dan membawa Robert ke rumah sakit di ibu kota.

“Kami tiba di Mulago pukul 2 pagi serta menghabiskan malam di lantai bangsal rumah sakit. Saya minta kamar kepada petugas kesehatan, tapi malah dimintai uang. Adikku akhirnya dikasih tempat tidur pagi harinya, ” kata Farida.

Dua hari kemudian, Robert Senyonga dapat jadwal untuk operasi, tapi terlambat.

“Saya murka. Mereka memukulinya, dan rumah sakit paling top di negeri ini bahkan tak bisa memberi perawatan yang pantas, ” kata Farida.

“Adikku meninggal dunia di pelukanku”.

Sejak pembentukan di awal 2000-an, LDU sudah punya reputasi buruk. Anggotanya sering dituduh melakukan pembunuhan tanpa proses pengadilan, atau menjadi tukang tembak sewaan.

Akhirnya mereka dibubarkan. Maka dari tersebut warga Uganda keberatan ketika LDU dihidupkan lagi tahun 2018.

LDU dikritik karena dianggap memberi senjata kepada orang-orang muda yang tak terlatih, yang tak mampu juga meredakan konflik di tengah konfrontasi.

Presiden Yoweri Museveni dan pejabat tinggi lain mengutuk pembunuhan-pembunuhan itu.

Namun ketika BBC mengontak beberapa lembaga keamanan terkait, tak ada yang bersedia memberi pernyataan.

Kelompok pembela hak asasi manusia khawatir masalah ini bersifat sistemik.

“Kami menemukan bahwa petugas keamanan memanfaatkan Covid-19 sebagai alasan untuk melanggar hak asasi manusia, ” kata Oryem Nyeko, seorang peneliti pada Human Rights Watch.

Pihak keluarga korban menyatakan proses hukum terlalu rumit untuk dijalani. Namun ada dua kisah sukses prosekusi dalam lima bulan terakhir. Satu kasus melibatkan tentara, satu lagi melibatkan anggota LDU.

Tak kembali

Tentara yang membunuh suami Allen Musiimenta dihukum penjara 35 tahun oleh pengadilan militer sesudah dinyatakan bersalah, empat hari setelah peristiwa itu.

Namun Allen tak puas.

“Si pelaku dihukum, namun suamiku tak akan kembali, ” kata Allen Musiimenta.

Benon Nsimenta, yang akan dilantik menjadi pendeta di bulan Nov, ditembak mati di jalan raya di kota Kasese tanggal twenty-four Juni.

Ia dan istrinya berangkat dari kampung mereka dengan sepeda engine. Mereka punya dokumen dari pemerintah lokal bahwa motor itu terkadang milik mereka dan bukan ojek.

“Tentara yang menyetop kami bahkan tak bertanya. Salah satu dari mereka menyebrang jalan, mengangkat senjata serta menembak suami saya di leher, ” kata istri Musiimenta.

“Kami mengerjakan proyek keluarga bersama, bicara tentang segala hal. Kami bikin rencana untuk anak-anak kami. Bagaimana saya membiayai pendidikan anak saya, ” katanya marah.

Pelatih sepak bola Nelly Julius Kalema selamat dari petugas keamanan. Namun nasibnya nyaris berbeda.

Tanggal 8 Juli ia membawa pacar temannya, Esther, ke klinik oleh sepeda motor, saat jam malam.

Mereka diperbolehkan melintas blokade jalan. Namun kemudian beberapa orang naik electric motor dan mengaku polisi, melambai untuk menghentikan mereka.

Kalema berkata ia minta berhenti di tempat yang lebih aman di depan. Katanya, seorang pria di motor mengambil tongkat pemukul lalu menghantam leher Ester, yang menjerit dan terjatuh.

“Saya kehilangan keseimbangan dan terbentur ke recompensar beton, kena kepala saya, ” katanya sembari berbaring di rumah sakit.

Kecelakaan ini membuatnya luka di kepala, kulit kepalanya sobek beberapa sentimeter dan perlu dijahit.

Esther selamat dengan kaki patah dan harus dioperasi.

Polisi menolak berkomentar terhadap tuduhan ini.